"Di China PLTB sudah terinstall 114.000 MW, padahal baru mulai mengembangkan start feed in tariff 2006. Awal project kuota 2 GW habis dalam 1,5 tahun. Industri berkembang sangat cepat," ungkap Soeripno, Ketua Asosiasi Energi Angin Indonesia ketika ditemui detikFinance pada diskusi aneka energi bari terbarukan dalam Indo EBTKE ConEx 2015 di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (20/8/2015)
Suripno menjelaskan, potensi angin di Indonesia paling banyak ada di wilayah Indonesia timur dan terletak di pantai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, ada beberapa penyebab hingga saat ini Indonesia belum bisa kembangkan PLT Angin skala besar. "Kami analisa, kenapa potensi besar tapi sedikit sekali yang baru dikembangkan. Kami sampai bentuk Wind Hybrid Acceleration Market Initiative untuk mempercepat pemanfaatan tenaga angin untuk pembangkit listrik. Ada beberapa pilot project tidak berhasil. Pengambil kebijakan menjadi pesimis. Kami upayakan agar bisa ada pilot project yang berhasil," terangnya.
"Kebijakan PLTB belum ada patokan feed in tariff. Infonya sudah didiskusikan, pembahasan sudah final dan tinggal menunggu tanda tangan menteri. Kami harap dalam minggu-minggu ini kami punya kepastian perhitungan feed in tariff tenaga angin," tutupnya.
(rrd/rrd)











































