Deputi Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis mengatakan ada minat investor dari Korsel di proyek infrastruktur di Indonesia.
"Selain pertemuan dengan parlemen, ada pertemuan menarik di Korsel yaitu saat kesempatan One on One meeting dengan pengusaha. BKPM Dapat minat Rp 80,24 triliun. Minat terbesar adalah listrik terkait program 35.000 MW," kata Azhar ditemui di kantor BKPM (31/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemudian pertemuan dengan 2 perusahaan tanpa Wapres ada beberapa yang minat investasi yaitu di bidang concrete pile industri dan ada juga yang mau investasi di bidang garmen di Jawa Tengah," lanjut Azhar.
Kepala BKPM, Franky Sibarani mengatakan rasio investasi Korsel cukup tinggi yaitu di atas 60%. "Korsel rasio investasi di Indonesia cukup tinggi yaitu di atas 60%. Korsel jadi salah satu dari lima negara target marketing investasi di Indonesia. Korsel masih menerapkan Indonesia negara tujuan investasi ranking 7. Maka pekerjaan rumah kami untuk menarik minat," ungkap Franky.
Pertemuan One on One dengan pengusaha di Seoull Korsel pada 28 Agustus lalu, Franky menceritakan adan hampir 150 pengusaha Korea dan Indonesia hadir dalam pertemuan tersebut dan sebagian besar bahkan betul-betul baru pernah berkomunikasi dengan BKPM Indonesia.
"Dalam pertemuan itu banyak yang baru. Beberapa banyak yang belum pernah dan baru ketemu BKPM. 80% pengusaha belum pernah investasi atau komunikasi dengan perwakilan BKPM di Seoul," terang Franky.
Franky memaparkan data bahwa Korsel masih punya US$ 9 miliar dari perencanaan izin prinsip sedang konstruksi atau bahkan belum dimulai di Indonesia.
"Kehadiran kami ke sana, agar mereka bisa mempercepat rencana realisasi investasi di Indonesia," imbuhnya.
Korsel, Franky menilai, sangat gencar investasi di bidang garmen, tekstil dan alas kaki atau di industri padat karya.
"378 pabrik garmen baru sedang dikerjakan semester I yang bisa menyerap 370.000 tenaga kerja. Terbesar yaitu Korsel, ada 158 pabrik dengan total nilai investasi US$ 805 miliar dan bisa menyerap 26.000 tenaga kerja," lanjut Franky.
Peringkat kedua investasi di bidang garmen diduduki oleh PMDN. Saat ini sedang dibangun pabrik garmen dari PMDN dengan nilai investasi Rp 2,41 triliun yang mampu menyerap 24.000 orang tenaga kerja.
"Urutan ketiga investasi di bidang garmen ke Indonesia yaitu Jepang lalu keempat Taiwan. Artinya bicara tekstil dan produk tekstil masih jadi tujuan investasi hanya masih kalah dibanding Vietnam kalau di bidang garmen dan tekstil," jelas Franky.
(hen/hen)











































