Blok Mahakam Masih Menggiurkan Bagi Total, Ini Alasannya

Blok Mahakam Masih Menggiurkan Bagi Total, Ini Alasannya

Michael Agustinus - detikFinance
Jumat, 04 Sep 2015 20:25 WIB
Blok Mahakam Masih Menggiurkan Bagi Total, Ini Alasannya
Bogor -

Pada 2 Juli 2015 lalu pemerintah telah memutuskan tidak akan memperpanjang kontrak Total E&P Indonesie di Blok Mahakam, Kalimantan Timur dan menyerahkan pengelolaan blok tersebut mulai 1 Januari 2018 kepada PT Pertamina (Persero).

Namun, Pertamina menyatakan tak sanggup untuk mengelola sendirian Blok Mahakam di Kalimantan Timur. Alasannya, Blok Mahakam termasuk ladang migas yang tingkat kesulitannya tinggi, pengoperasiannya pun membutuhkan modal yang amat besar hingga Rp 14 triliun per tahun.

Total pun mendapat angin segar. Pertamina ingin menggandeng Total E&P Indonesie untuk mengelola Blok Mahakam. Pemerintah pun membuka kesempatan kepada Pertamina untuk menggandeng Total atau kontraktor lain dengan Participating Interest (PI) hingga 30%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tawaran PI (saham) 30% tersebut disambut baik oleh Total. Meski blok ini sudah sangat tua, sudah beroperasi sejak 1968 alias 47 tahun lalu, Total tetap 'ngebet' ingin tetap bisa mengelola kembali Blok Mahakam. Walau produksi Blok Mahakam juga sudah sangat jauh dari masa jayanya.

Vice President HR Communications General Services Total E&P Indonesie, Arividya Noviyanto mengungkapkan, bahwa Blok Mahakam masih tetap merupakan 'ladang uang' yang besar di usianya yang hampir setengah abad sehingga Total masih ingin ikut mengelolanya.

"Namanya perusahaan kalau ada nilai ekonominya pasti berminat. Memang kalau dibandingkan Mahakam saat peak (puncak produksi) sudah jauh di bawahnya, tapi bukan berarti dia jadi small asset, masih lumayan lah. Tentunya ada nilai ekonominya," kata Noviyanto saat Media Gathering di Hotel Aston, Bogor, Jumat (4/9/2015).

Dia menambahkan, Blok Mahakam juga memiliki nilai historis bagi Total. Sebab, Total sudah menggenggam ladang migas ini sejak era 1970-an atau lebih dari 30 tahun lalu. "Ada nilai historinya juga, Total beroperasi di Blok Mahakam dari tahun 1970-an di Mahakam. Kalau tiba-tiba kabur rasanya sayang," ucapnya.

Selain itu, menurutnya, operasi Blok Mahakam memiliki tingkat kesulitan dan resiko yang amat tinggi. Dirinya tak yakin Pertamina atau kontraktor lain mampu mengelolanya dengan baik. "Di sisi lain kita juga tau kompleksitas Blok Mahakam sehingga kita berminat untuk melanjutkan," tegas Noviyanto.

Karena itu, pihaknya berharap pemerintah dan Pertamina dapat menawarkan kontrak yang cukup menguntungkan sehingga Total dapat melanjutkan kiprahnya di Blok Mahakam. "Mudah-mudahan sih kita ikut. Kita berharap mendapatkan kontrak yang baik," tutupnya.

(rrd/rrd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads