"Soal Pak Rizal Ramli (minta 35.000 MW direvisi), saya belum bertemu secara detail menjelaskan ke Pak Rizal mengenai program PLN ini. Karena program PLN itu 70.000 MW untuk 10 tahun dan itu sudah dibuat sebelum-sebelumnya baik oleh direksi PLN lama maupun yang baru. Dasar program kerja jangka panjang. Ada di RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik). Nah ini akan kita sesuaikan lokasinya, jumlahnya dan sebagainya," kata Sofyan ditemui di Istana Negara, Rabu (9/9/2015).
Sofyan menambahkan, apalagi Presiden Joko Widodo tetap pada komitmennya untuk terus mendorong proyek 35.000 MW. Apalagi 35.000 MW juga sudah menjadi rencana jangka panjang PLN di RUPTL 2015-2024.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan Dirut BRI ini berencana secepatnya untuk bertemu dengan Rizal Ramli untuk menjelaskan langsung secara detail program 35.000 MW.
"Saya segera mungkin saya ketemu Pak Rizal. Karena saya sangat baik hubungan dengan Pak Rizal dan bisa bertemu setiap saat. Nanti saya mohonkan waktu untuk ketemu Pak Rizal secepatnya," tutup Sofyan.
Sebelumnya, Menko bidang Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli menegaskan, bila target 35.000 megawatt (MW) tetap dilanjutkan, nantinya akan membuat PT PLN (Persero) merugi triliunan setiap tahunnya, bahkan bisa membuat PLN bangkrut.
Rizal mengatakan, berdasarkan hitungannya dalam 5 tahun ke depan, Indonesia hanya butuh pembangkit listrik dengan kapasitas total 16.000 megawatt (MW), bukan 35.000 MW. Artinya bila dilanjutkan ada sekitar 21.000 MW yang menganggur.
(rrd/hen)










































