"Harga gas kita tinggi sekali. Dunia usaha banyak meminta proteksi dari pemerintah. Bagaimana kalau kita mau saingan dengan negara ASEAN, tapi harga gas kita mahal sekali. Harga gas yang memadai harus diperhitungkan agar bisa bersaing," ungkap Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka, Kementerian Perindustrian, Harjanto, di acara diskusi "Energi Sebagai Modal Pembangunan" di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (17/9/2015).
Harjanto mencontohkan produk baja banyak diimpor Indonesia dari China, hal ini akibat harga baja dari dalam negeri tidak bisa bersaing, salah satunya akibat mahalnya harga gas bumi yang digunakan dalam proses produksi baja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sudah hitung-hitung kajian skenario kalau harga gas turun biaya produksi turun sekian, benefitnya berapa, dan pastinya di ujungnya ada dampak multi player effect," tambahnya.
Harjanto membandingkan harga gas bumi di Amerika Serikat (AS), Malaysia dengan Indonesia. Berikut perbandingannya:
- Di AS turun dari US$ 5 /MMBTU pada Januari 2014, dan kemudian jadi US$ 2,94/MMBTU pada Desember 2014.
- Di Asia mengacu pada impor LNG Jepang turun dari US$ 15,5/MMBTU pada 2014 menjadi US$ 11/MMBTU pada 2015.
- Di Malaysi US$ 3,69/MMBT,
- Di Singapura US$ 3,94/MMBTU,
- Di Indonesia US$ 10,2/MMBTU.
"Berapa kali lipatnya itu," tutup Harjanto.
Menanggapi keluhan tingginya harga gas bumi, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro akan melihat lagi formula penentuan harga gas. Pihaknya kemungkinan bisa menurunkan harga gas dengan pengorbanan turunnya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
"Mengenai gas, nanti kita coba formulasi supaya harga gas untuk industri ini diturunkan, supaya membuat industri itu hidup, memang pasti ada pengorbanan di kita, PNBP turun," kata Bambang.
Ia menilai, banyak pihak termasuk dari kalangan pemerintah, bila membicarakan tingginya harga gas antara lain PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN). PGN diminta menurunkan harga gas tanpa ada kompensasi apapun kepada perusahaan tersebut.
"Ya tidaklah pastinya. Apalagi PGN perusahaan publik (terbuka). Nanti investor publiknya pasti nervous kalau harga diturunin begitu saja. Nanti saya buat skema PNBP-nya. Tapi itu mudah-mudahan di PLN di subsidi listrik juga ada kompensasi. Karena kan harga gas juga berlaku buat PLN, kita janjikan ini sebagai bagian dari paket kebijakan kemarin," jelasnya.
(rrd/hen)











































