"Pada pertemuan hari ini ada perubahan kebijakan terkait dengan dukungan dana sawit, dana yang digunakan untuk membayar selisih harga antara FAME dengan solar," kata Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit, Bayu Krisnamurthi, ditemui usai rapat biodiesel, di Kantor Kemenko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (22/9/2015).
Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sering kali harganya di atas solar. Selisih inilah yang akan dikompensasi oleh BPDP Sawit. Dana celengan sawit ini didapat dari pungutan US$ 50 per ton untuk setiap setiap ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan US$ 10-40 per ton CPO olahan yang diekspor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bayu mengungkapkan, untuk dana celengan sawit yang diberikan BPDP Sawit tahun ini dari selisih harga MOPS Solar dengan harga indeks FAME mencapai Rp 2,5 triliun.
"Rp 2,5 triliun akan diberikan dukungannya oleh BPDP Sawit. Mulai 1 Oktober hingga 31 Desember 2015 Pertamina diperkirakan akan serap 1 juta KL biodiesel. Tahun depan akan serap 5,14 juta KL termasuk bagiannya PLN. Tahun depan rinciannya 2,8 juta KL untuk solar subsidi, 1,2 juta KL untuk PLN, dan sisanya untuk industri," ungkap Bayu.
Bayu menambahkan lagi, selisih harga FAME dengan solar murni saat ini Rp 500/liter. Artinya harga FAME lebih mahal, sehingga harga biosolar ujungnya lebih mahal Rp 500/liter. Selisih harga tersebut tidak dibebankan ke konsumen atau pengguna biodiesel/biosolar, melainkan ditanggung BPDP Sawit.
"Skenarionya kalau harga minyak bumi tetap rendah dan harga sawit naik, maka selisihnya akan membesar. Selisihnya akan lebih besar dari sekarang. Saat ini selisihnya Rp 500/liter. Dananya masih tersedia. Semoga harga biodiesel sawit bisa seperti yang kita harapkan," tutup Bayu.
(rrd/hen)











































