Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang mengatakan, harga Premium sulit diturunkan dengan adanya kondisi penguatan dolar yang hingga menembus Rp 14.700 saat ini. Pertamina masih mengandalkan impor untuk pengadaan bensin Premium, yang dibeli dengan dolar.
"Kami serahkan saja ke pemerintah. Sejujurnya agak susah (menurunkan harga bensin Premium) karena tekanan dolar, apalagi kita juga harus mengurangi pembayaran dalam dolar, yang berarti harus dilakukan deferred payment dan atau hedging," kata Bambang kepada detikFinance, Kamis (1/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Salah satu yang mungkin adalah penundaan PPN dan atau PBBKB, untuk ini perlu fatwa Presiden," jelasnya.
(dnl/hen)











































