Satu lagi waduk dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dibangun zaman pemerintahan Presiden Soeharto dalam kondisi 'sekarat' yakni PLTA Cirata. PLTA ini diklaim merupakan yang terbesar di ASEAN, dengan kapasitas total 1.008 megawatt (MW).
Kepala Badan Pengelola Waduk dan PLTA Cirata, PT Pembangkit Jawa Bali (PJB), Agustian mengungkapkan, waduk dan PLTA Cirata saat ini mengalami pencemaran dan sedimentasi (pendangkalan) yang semakin parah.
"Waduk dan PLTA ini tingkat pencemaran air dan sedimentasinya makin tahun semakin parah," kata Agustian kepada detikFinance, ditemui lokasi PLTA Cirata, Kecamatan Cipeudeuy, Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (15/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia memperkirakan, fungsi Waduk Cirata akan lebih cepat berakhir, yakni diperkirakan tinggal 18-20 tahun lagi.
"Desain awal Waduk Cirata ini mampu berfungsi selama 100 tahun sejak dibangun pada 1983. Tapi dengan sedimentasi yang kian parah, diperkirakan fungsinya hanya bertahan selama 50 tahun saja. Jadi kalau perkiraan kita tinggal 18-20 tahun lagi," ucap Agustian.
Agustian menambahkan, luas Waduk Cirata ini mencapai 62 km dengan membendung air dari Sungai Citarum. Luasnya waduk ini mencakup 3 wilayah, yakni Kabupaten Cianjur, Purwakarta, dan Kabupaten Bandung.
Kondisi ini menambah daftar waduk dan PLTA yang dibangun zaman Presiden Soeharto dalam kondisi sekarat. Sebelumnya ada Waduk Saguling yang kondisinya hampir sama. Simak ulasan PLTA Saguling yang sedang 'sekarat di sini.
(rrd/rrd)










































