Antam dan Inalum Bangun Pabrik Smelter Alumina Rp 22,9 T di Kalbar

Antam dan Inalum Bangun Pabrik Smelter Alumina Rp 22,9 T di Kalbar

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Kamis, 15 Okt 2015 13:45 WIB
Antam dan Inalum Bangun Pabrik Smelter Alumina Rp 22,9 T di Kalbar
Foto: Pabrik Smelter Alumina (Reuters)
Jakarta - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum, patungan bangun pabrik pengolahan (smelter) bijih bauksit menjadi alumina (Grade Alumina Refinery/SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat (Kalbar) US$ 1,7 miliar atau sekitar Rp 22,9 triliun dengan kurs Rp 13.500/US$.

Pabrik ini rencananya mulai dibangun 2016 dan beroperasi di 2019. Pembangunan pabrik pengolahan alumina merupakan program hilirisasi tambang untuk mengurangi ketergantungan impor alumina.

"Pembangunan smelter di Mempawah untuk dukung hilirisasi dan naikkan nilai tambah bauksit," kata Deputi BUMN Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Fajar Harry Sampurno, usai Penandatanganan Nota Kesepahaman Antam dan Inalum, di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Kamis (15/10/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, Direktur Utama Inalum, Winardi Sunoto menjelaskan, pihaknya bersama Antam juga menggandeng perusahaan dunia di sektor alumunium dari Tiongkok, Rusia, dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk menyerap produksi alumina.

Pabrik baru ini nantinya mampu menghasilkan 2 juta ton alumina. Pembangunan pabrik dibagi ke dalam tahap I dan tahap II. Setiap tahap mampu menghasilkan 1 juta ton alumina. Untuk memproduksi 2 juta ton alumina, kebutuhan bauksit mencapai 6 juta ton.

"Sinergi dengan Antam merupakan salah satu usaha pertumbuhan berkelanjutan korporasi untuk merealisasikan industri hulu aluminium Indonesia, sehingga akan terintegrasi sampai dengan produk hilir aluminium untuk peningkatan nilai tambah dan daya saing," ujarnya.

Pabrik pengolahan alumina itu juga akan dipakai memasok kebutuhan alumina di Inalum. Setiap tahun, Inalum membutuhkan 500.000 ton alumina impor untuk diolah menjadi 250.000 ton alumunium.

"Kita 100% impor alumina. Sebagian besar dari Australia," tutup Sunoto.

(feb/rrd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads