Pabrik ini rencananya mulai dibangun 2016 dan beroperasi di 2019. Pembangunan pabrik pengolahan alumina merupakan program hilirisasi tambang untuk mengurangi ketergantungan impor alumina.
"Pembangunan smelter di Mempawah untuk dukung hilirisasi dan naikkan nilai tambah bauksit," kata Deputi BUMN Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Fajar Harry Sampurno, usai Penandatanganan Nota Kesepahaman Antam dan Inalum, di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Kamis (15/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pabrik baru ini nantinya mampu menghasilkan 2 juta ton alumina. Pembangunan pabrik dibagi ke dalam tahap I dan tahap II. Setiap tahap mampu menghasilkan 1 juta ton alumina. Untuk memproduksi 2 juta ton alumina, kebutuhan bauksit mencapai 6 juta ton.
"Sinergi dengan Antam merupakan salah satu usaha pertumbuhan berkelanjutan korporasi untuk merealisasikan industri hulu aluminium Indonesia, sehingga akan terintegrasi sampai dengan produk hilir aluminium untuk peningkatan nilai tambah dan daya saing," ujarnya.
Pabrik pengolahan alumina itu juga akan dipakai memasok kebutuhan alumina di Inalum. Setiap tahun, Inalum membutuhkan 500.000 ton alumina impor untuk diolah menjadi 250.000 ton alumunium.
"Kita 100% impor alumina. Sebagian besar dari Australia," tutup Sunoto.
(feb/rrd)











































