Perusahaan tersebut adalah PT Titan Mineral Utama (TMU) dengan rencana investasi sebesar Rp 4,7 triliun dan PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia (HNAI) sebesar US$ 130 juta atau sekitar Rp 1,7 triliun (dengan kurs Rp 13.500).
Kepala BKPM Franky Sibarani mengatakan, realisasi investasi yang dilakukan sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan batu bara, yang mewajibkan adanya peningkatan sumber daya mineral dengan melakukan pengolahan dan pemurnian hasil penambangan di dalam negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Franky, pembangunan industri smelter juga memerlukan dukungan dan kerjasama dari semua stakeholders baik pemerintah, swasta, dan BUMN sehingga industri smelter yang berbasiskan sumber daya alam ini dapat memberikan efek berantai (multiplier effect) kepada semua pihak.
"Pada 2016, kedua smelter di Bantaeng ini diharapkan sudah dapat berproduksi komersial," ujar Franky.
Sehingga kapasitas investasi nilai tambah mineral nikel di Sulawesi akan menjadi salah satu yang terbesar di dunia di antara negara-negara penghasil dan pengolah nikel di dunia.
Franky menambahkan, rencana investasi TMU sebesar Rp 4,7 triliun tersebut dilakukan dengan rencana penyerapan tenaga kerja sebesar 1.000 orang. Sementara HNAI mempunyai rencana investasi sebesar Rp 1,7 triliun dan rencana penyerapan tenaga kerja sebesar 900 orang.
Saat ini TMU sedang melakukan pembangunan tahap pertama konstruksi dengan kapasitas produksi Ferronickel sebesar 12.000 ton/tahun yang akan mulai produksi komersial pada bulan Februari 2016. Dalam pembangunan pabrik smelternya, TMU berencana memasang 20 tungku blast furnace, dimana pada saat ini sudah melakukan instalasi 4 tungku.
Sedangkan, HNAI sedang melaksanakan konstruksi tahap pertama dengan kapasitas 100.000 ton Ferronickel per tahun dengan menggunakan 2 tungku Rotary Kiln Electric Furnace yang ramah lingkungan. Perusahaan optimis bahwa proses konstruksi pabrik smelter nikel dapat diselesaikan pada bulan Desember 2015.
Pada Januari 2016, HNAI akan melakukan trial produksi dan diharapkan pada bulan Februari 2016 dapat memulai produksi serta melakukan ekspor perdana.
"Realisasi investasi smelter nikel dan Kawasan Industri Bantaeng membuktikan komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Kabupaten Bantaeng dalam mendorong pencapaian nilai tambah mineral nikel di Indonesia," tutup Franky.
(rrd/hen)











































