"Avtur kita lebih mahal 7% dengan Singapura itu sih normal," kata Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang, kepada detikFinance, Jumat (8/1/2016).
Bambang menjelaskan, lebih mahalnya 7% harga avtur di Indonesia dibanding Singapura, disebabkan beberapa faktor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiga, di Indonesia banyak 'pungutan', mulai dari PPN hingga biaya sewa peralatan dari pengelola bandara.
"Nggak mungkin harga kita sama dengan Singapura, selama kilang kita juga belum secanggih Singapura. Posisi kilang kita tidak berdiri di sebelah bandara, volume penjualan belum sebesar Changi, serta masih kena pungutan," ungkap Bambang.
Ia menambahkan, karena sulit menandingi harga avtur di Singapura, Pertamina menargetkan harga avtur bisa sejajar dengan harga di Bangkok, Thailand, dan Kuala Lumpur (KL), Malaysia.
"Makanya target kami adalah sejajar KL dan Bangkok, tapi sama Singapura selisihnya hanya sekitar 5-6%. Nanti kalau kilang kita sudah diremajakan semua, beda harga avtur dengan Singapura hanya 3-4% saja. Syukur-syukur bisa hanya beda sekitar 2-3% tergantung kecanggihan kilang nanti, itu pun bila pungutan-pungutan bisa diminimalkan," tutup Bambang.
(rrd/drk)











































