Ini Alasan Menteri ESDM Ingin Simpan Cadangan BBM di Luar Negeri

Ini Alasan Menteri ESDM Ingin Simpan Cadangan BBM di Luar Negeri

Michael Agustinus - detikFinance
Senin, 28 Mar 2016 11:44 WIB
Ini Alasan Menteri ESDM Ingin Simpan Cadangan BBM di Luar Negeri
Foto: Michael Agustinus
Jakarta - Menteri ESDM Sudirman Said berencana melakukan penyimpanan cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia di luar negeri. Alasannya karena tangki-tangki penyimpanan (storage) cadangan BBM di dalam negeri belum memadai.

Pdahal menurut Sudirman, sekarang adalah momentum yang tepat untuk menghimpun cadangan BBM. Di saat harga minyak dunia yang sedang rendah, Indonesia harus memborong BBM sebanyak mungkin untuk stok.

Karena itu, solusi terbaik untuk jangka pendek adalah dengan memborong BBM dan menitipkannya dulu di storage milik negara produsen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita harus menyimpan cadangan BBM. Kalau belinya sekarang, kita tidak punya cukup sarana penyimpanan. Jadi jalan keluarnya sementara kita titipkan di negara penjual," kata Sudirman usai pelaporan SPT pajak di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (28/3/2016).

Pembelian cadangan BBM dalam jumlah besar di tengah rendahnya harga minyak dunia adalah hal yang mutlak dilakukan. Tujuannya ialah untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Cadangan BBM Indonesia tergolong sedikit, hanya sekitar 18-22 hari, ini membuat ketahanan energi rawan. Sebagai perbandingan, Singapura saja punya cadangan BBM sampai 90 hari, China juga menimbun cadangan BBM hingga 90 hari, Amerika Serikat bahkan punya cadangan untuk 260 hari.

Namun, Sudirman mengakui bahwa ia belum menentukan kriteria negara untuk penyimpanan cadangan BBM Indonesia. Belum ada pembicaraan serius dengan negara mana pun untuk rencana ini. "Belum tahu, tergantung diskusi nanti. Masih jauh, belum sampai pada isu teknis," ucapnya.

Sebelumnya, Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjajaki untuk menyewa tangki-tangki penyimpanan cadangan BBM di beberapa negara, terutama di Iran dan Arab Saudi.

"Kita sudah berdiskusi dengan negara-negara produsen minyak, terutama dengan Arab Saudi dan Iran kita diskusi intensif," kata Wiratmaja kepada detikFinance.

Keseluruhan aspek akan tetap menjadi perhatian pemerintah. Misalnya, terkait mekanisme pembelian, permintaan untuk dibawa ke dalam negeri, hingga keamanan area tempat penyimpanan.

Selain di luar negeri, pemerintah juga berencana meminjam tangki-tangki penyimpanan BBM milik perusahaan-perusahaan migas yang menjadi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) di Indonesia. "Kita juga identifikasi tangki-tangki yang ada di Indonesia milik K3S. Ada idle capacity sekitar 1,5 juta barel," tutupnya. (dna/dna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads