Curhatan Bupati Nias ke Sudirman Said: Kami Berharap Bisa Lebih Terang Lagi

Curhatan Bupati Nias ke Sudirman Said: Kami Berharap Bisa Lebih Terang Lagi

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 14 Apr 2016 14:50 WIB
Curhatan Bupati Nias ke Sudirman Said: Kami Berharap Bisa Lebih Terang Lagi
Foto: Michael Agustinus
Nias - Krisis listrik Pulau Nias, Sumatera Utara yang berlangsung selama 12 hari sejak 1 April 2016-13 April 2016 akhirnya teratasi. Tetapi persoalan krisis listrik di Nias sebenarnya belum usai 100%.

Dalam pidatonya saat menyambut Menteri ESDM Sudirman Said, Bupati Nias Sokhiatulo Laoli mengungkapkan, pasokan listrik Nias yang sudah normal saat ini sebetulnya masih jauh di bawah kebutuhan. Rasio elektrifikasi di Pulau Nias baru 47%, artinya 53% wilayah Nias belum terlistriki.

Pulihnya listrik Nias ini, sambungnya, perlu dijadikan sebagai momentum untuk menggenjot pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan. Dengan begitu, perekonomian Nias bisa berkembang, pabrik-pabrik bisa berdiri, potensi pariwisata juga bisa tergarap.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami mohon apa yang sudah pulih ini (listrik) tidak cepat berlalu. Bukan hanya normal, tapi (pasokan listrik) harus meningkat. Kalau tidak ada energi, kami nggak bisa bangun pabrik, nggak bisa bangun pariwisata. Kami berharap Nias menjadi lebih terang lagi," kata Sokhiatulo di Kantornya, Nias, Kamis (14/4/2016).

"Kebutuhan Pulau Nias, sudah kami sampaikan ke pemerintah pusat, 150 MW. Kalau masih diminta mana hitungannya, mari kita hitung bersama. Kondisinya sekarang hanya ada 24 MW. Melalui pertemuan ini, memang 26 MW sudah hidup kembali, tapi kami mohon supaya dibuat solusi permanen di Nias. Listrik masih jauh dari yang kami butuhkan," dia menjelaskan.

Sokhiatulo menambahkan, krisis listrik di Nias baru-baru ini sedikit banyak juga terjadi karena pemerintah pusat maupun PLN abai terhadap kelistrikan di Nias. Sudah banyak rencana pembangunan pembangkit listrik dan jaringan transmisi di Nias, tapi realisasinya sedikit sekali. Akibatnya Nias bergantung pada pasokan listrik dari PLTD sewa milik perusahaan asing.

Kalau saja rencana-rencana pembangunan itu berjalan, rasio elektrifikasi di Nias sudah tinggi, sudah banyak pembangkit listrik, tak perlu bergantung pada 1 perusahaan penyedia jasa PLTD.

"Hal ini bukan baru diketahui oleh kami, dan juga bukan tidak diketahui PLN, listrik Pulau Nias hanya dihidupi genset dari APR. Kalau saja rencana tahun 2014 dan sebelum-sebelumnya direalisasikan, tidak akan terjadi krisis listrik walaupun APR mundur," tandasnya.

Pihaknya mengaku siap membantu pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di daerahnya, misalnya dalam hal pembebasan lahan.

"Kami akan dukung, apa kewajiban kami, kami siap sepanjang itu untuk kepentingan negara. Kalau soal lahan, kami koordinir, tidak ada masalah," Sokhiatulo menegaskan.

Untuk saat ini, dirinya dan masyarakat Nias sedang bergembira hati karena listrik sudah kembali mengalir. Tapi bukan berarti masalah selesai, krisis listrik kemarin hanya puncak gunung es dari permasalahan sebenarnya.

"Dengan bantuan semua pihak, listrik mulai pulih. Hampir memulihkan rasa duka kami. Sekarang kami bersuka cita dulu," tutupnya. (feb/feb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads