ESDM: Pembangunan Kilang Minyak Baru Urgent

ESDM: Pembangunan Kilang Minyak Baru Urgent

Michael Agustinus - detikFinance
Jumat, 22 Apr 2016 16:39 WIB
ESDM: Pembangunan Kilang Minyak Baru Urgent
Foto: Hasan Al Habshy
Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa kilang minyak baru sangat dibutuhkan, harus segera dibangun. Kilang-kilang tua yang ada saat ini hanya mampu memproduksi BBM sebanyak 800.000 barel per hari.

Total konsumsi BBM masyarakat Indonesia saat ini sudah 1,6 juta barel per hari. Akibatnya, Indonesia amat bergantung pada impor BBM yang mencapai 800.000 barel per hari alias 50% kebutuhan nasional.

Sebagian besar BBM diimpor dari Singapura, negara seluas Pulau Batam dengan penduduk 5,5 juta jiwa yang tak punya 1 pun sumur minyak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pembangunan kilang minyak sangat urgent karena saat ini kita impor BBM dalam jumlah besar, sekitar 50% dari kebutuhan nasional. Jadi untuk ketahanan energi kilang, ini sangat penting untuk dibangun," kata Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, melalui pesan singkat kepada detikFinance di Jakarta, Jumat (22/4/2016).

Wiratmaja menambahkan, kilang minyak baru juga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. "Kilang adalah salah satu cutting edge technology process, bisa menjadi pusat pertumbuhan perekonomian dan menyerap tenaga kerja yang besar," ucapnya.

"Kita melakukan upaya dengan terbitnya Perpres Kilang dan Permen ESDM untuk mendorong dan mempercepat pembangunan kilang baru," tambah Wiratmaja.

VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Wianda Arindita Pusponegoro, menambahkan bahwa pembangunan kilang minyak baru juga dapat menekan biaya produksi BBM di dalam negeri.

Sebab, kilang dengan teknologi baru memiliki efisiensi lebih tinggi, produk yang dihasilkan juga kualitasnya lebih baik.

"Pastinya biaya produksi BBM turun karena kilang dapat maksimum terima intake dari berbagai sumber dan menghasilkan lebih banyak volume valuable products," paparnya.

Selain itu, kilang baru otomatis mengurangi impor BBM, devisa negara bisa dihemat. Bahkan mungkin Indonesia bisa menjadi eksportir BBM, cadangan devisa pun makin kuat. Apabila RDMP (Refinery Development Master Plan) dan kilang baru selesai maka  negara tidak perlu keluarkan devisa untuk impor produk BBM, malahan solar kita akan ekspor," pungkasnya. (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads