Produksi Kilang Minyak Singapura 1,3 Juta Barel/Hari, RI Berapa?

Produksi Kilang Minyak Singapura 1,3 Juta Barel/Hari, RI Berapa?

Michael Agustinus - detikFinance
Jumat, 22 Apr 2016 17:26 WIB
Produksi Kilang Minyak Singapura 1,3 Juta Barel/Hari, RI Berapa?
Foto: Hasan Al Habshy
Jakarta - Kilang minyak di Indonesia rata-rata tergolong tua usianya. Contohnya, Kilang Cilacap dibangun pada 1974, kilang Balikpapan, Plaju, Dumai bahkan sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda, tidak dibangun dari nol ketika Republik Indonesia berdiri.

Akibat termakan usia, kilang-kilang di Indonesia sudah tak bisa beroperasi maksimal, teknologinya sudah tertinggal, juga tidak efisien.

"Kilang-kilang yang kita miliki termasuk kategori tua, bahkan sebagian sudah sangat tua. Karena sudah tua dan teknologinya sudah lama maka efisiensinya tidak sebaik kilang baru, dan juga grade produknya tidak bisa mencapai standar Euro 4," kata Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, melalui pesan singkat kepada detikFinance di Jakarta, Jumat (22/4/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Wianda Arindita Pusponegoro, menambahkan bahwa rata-rata kompleksitas kilang minyak di Indonesia masih rendah, sebagian besar hanya memiliki Nelson Complexity Index (NCI) rata-rata 4,9. Jauh ketinggalan dibanding kilang minyak milik Singapura yang memiliki NCI 9.

"Untuk kilang Balongan sudah kompetitif karena NCI-nya sudah 10. Kilang yang lain dalam 3,5-4 tahun kedepan sudah harus di-upgrade dengan NCI rata-rata 9," paparnya.

Total kapasitas produksi kilang minyak milik Singapura juga lebih besar, mencapai 1,38 juta barel per hari, sedangkan Indonesia hanya 800.000 barel per hari. Padahal negara seluas Pulau Batam tersebut jumlah penduduknya hanya 5,5 juta orang.

Indonesia yang jumlah penduduknya 250 juta orang membutuhkan 1,6 juta barel BBM setiap hari, sedangkan Singapura hanya butuh 148.000 barel per hari. Indonesia akhirnya menjadi tergantung pada BBM yang diimpor dari Singapura, negara yang tak punya sumur minyak.

"Tidak bisa dibiarkan kita terus bergantung pada impor. Kilang baru sangat dibutuhkan. apalagi tren pertumbuhan konsumsi energi 7%-8% per tahun," tandas Wianda. (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads