RI Bisa Tak Impor Solar di 2020, Ini Syaratnya

RI Bisa Tak Impor Solar di 2020, Ini Syaratnya

Michael Agustinus - detikFinance
Senin, 25 Apr 2016 19:19 WIB
RI Bisa Tak Impor Solar di 2020, Ini Syaratnya
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - PT Pertamina (Persero) memperkirakan impor solar akan berhenti di 2020. Pada tahun itu, produksi solar dalam negeri bisa mengimbangi permintaan solar yang bakal mencapai 214,2 juta hingga 259,5 juta barel per tahun.

Tapi, proyeksi tersebut hanya akan menjadi kenyataan bila rencana modifikasi (Refinery Development Master Plan/RDMP) Refinery Unit V Balikpapan terealisasi di akhir 2019. Ditambah lagi dengan produksi solar sebanyak 4,19 juta barel per tahun dari Kilang TPPI yang beroperasi sejak 2015.

Β Maka, produksi solar dari kilang di dalam negeri sudah bisa memenuhi 100% kebutuhan domestik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Proyeksi permintaan Solar pada tahun 2020 diperkirakan mencapai sekitar 214,2 juta untuk base case dan 259,5 juta barel untuk high case dalam setahun. Tambahan produksi selain diperoleh dari TPPI yang mulai beroperasi pada 2015 lalu sebesar 4,19 juta barel, juga diperoleh dari RDMP RU V Balikpapan yang akan mulai operasi komersial pada akhir 2019," kata VP Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, kepada detikFinance di Jakarta, Senin (25/4/2016).

Direktur Pengolahan Pertamina, Rachmad Hardadi, menambahkan, pihaknya berencana akan melakukan upgrade untuk meningkatkan kapasitas Kilang Cilacap, Dumai, Plaju, dan Balongan. Juga membangun 2 kilang baru (Grass Root Refinery/GRR), yaitu di Tuban dan Bontang.

Jika semuanya berjalan lancar, kapasitas kilang di dalam negeri dapat mengimbangi konsumsi BBM di dalam negeri pada 2024. Kapasitas kilang yang saat ini baru 1 juta barel per hari bisa meningkat 120% menjadi 2,2 juta barel per hari sehingga Indonesia terbebas dari impor BBM, 100% kebutuhan BBM bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri.

"Kalau RDMP selesai, 2 GRR selesai, tahun 2024 kita sudah nggak impor, sudah mandiri. Kapasitas kilang kita sudah 2,2 juta barel per hari. 2020 bahkan mungkin kita sudah bisa ekspor solar," kata Rachmad.

RDMP Balikpapan direncanakan bisa menambah kapasitas kilang hingga 100.000 barel per hari. Modifikasi akan dilakukan dalam 2 tahap, tahap pertama selesai 2019 dan tahap kedua selesai 2022. Biaya yang dibutuhkan untuk RDMP Balikpapan mencapai US$ 2 miliar.

RDMP Cilacap dijadwalkan selesai 2022. Untuk Kilang Cilacap ini, Pertamina memilih Saudi Aramco sebagai strategic partner. Ditargetkan kapasitas produksi kilang bisa bertambah 20 ribu barel per hari. Biaya yang dibutuhkan US$ 5 miliar.

Sedangkan GRR Tuban direncanakan selesai 2021, biaya yang dibutuhkan US$ 12 miliar- US$14 miliar. Pertamina diberi penugasan khusus oleh pemerintah untuk membangunnya. Kilang ini bakal berkapasitas 300.000 barel per hari.

Kemudian GRR Bontang diharapkan selesai 2023. Biayanya US$ 14 miliar, dengan perkiraan kapasitas produksi akan mencapai 300.000 barel per hari. (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads