Mau Bantu Pertamina Bangun Kilang di Tuban, Ini Permintaan Rosneft

Mau Bantu Pertamina Bangun Kilang di Tuban, Ini Permintaan Rosneft

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 28 Apr 2016 14:37 WIB
Mau Bantu Pertamina Bangun Kilang di Tuban, Ini Permintaan Rosneft
Foto: Hasan Al Habshy
Jakarta - BUMN perminyakan asal Rusia, Rosneft, kini menjadi calon terkuat partner Pertamina untuk pembangunan kilang minyak di Tuban yang rencananya dimulai 2017.

Untuk menunjukkan keseriusannya, kemarin CEO Rosneft Igor Ivanovich menemui Menteri ESDM Sudirman Said dan Menteri BUMN Rini Soemarno.

Sejumlah tawaran menggiurkan disodorkan Rosneft kepada Pertamina jika dipilih menjadi partner strategis pembangunan kilang. Mulai dari alih teknologi, pengembangan SDM, hingga kerja sama pengeboran minyak di Rusia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tapi tentu Rosneft juga mengajukan sejumlah permintaan kepada Pertamina dan pemerintah Indonesia. Apa saja permintaannya?

VP Corporate Communication Pertamina, Wianda Arindita Pusponegoro, mengungkapkan bahwa tidak ada permintaan khusus yang aneh dan berlebihan dari Rosneft.

"Sejauh ini masih wajar-wajar saja. Kalau dari sisi permintaan-permintaan mereka normatif saja," kata Wianda saat ditemui di Restoran Bebek Bengil, Jakarta, Kamis (28/4/2016).

Permintaan-permintaan Rosneft di antaranya adalah masalah pembagian modal, kemungkinan mereka bisa memasok minyak mentah ke Indonesia, dan peluang ekspor produk BBM dari kilang Tuban.

"Pembagian equity, mereka juga minta bisa memasukan crude mereka, terus dari sisi produk masih kita lihat apakah dikonsumsi di sini saja atau mereka bisa bawa," tutur Wianda.

Namun, untuk pasar bagi BBM yang dihasilkan dari kilang Tuban, kemungkinan seluruhnya akan diserap domestik. "Kalau dari pernyataan mereka bahwa permintaan di sini besar, kita bisa menyediakan semua untuk lokal di sini," ucapnya.

Pertamina mengaku tak keberatan sama sekali dengan permintaan Rosneft. Hanya saja, Pertamina ingin mayoritas kepemilikan kilang Tuban berada di tangannya. "Kita maunya mayoritas, di atas 50% dari biaya investasi US$ 5 miliar. Biasanya (sumber pendanaan) equity 40%, loan 60%," tutup Wianda. (hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads