Ratusan desa itu semuanya belum teraliri listrik, tersebar di seluruh Indonesia, ada yang di Pulau Mentawai, pedalaman Kalimantan, hingga Papua.
Anak-anak muda yang dikirim akan tinggal bersama masyarakat selama 6 bulan untuk mencari tahu kebutuhan energi masyarakat setempat. Misalnya, bila di daerah itu masyarakat umumnya bekerja sebagai nelayan, maka perlu cold storage untuk menyimpan ikan. Kebutuhan listrik untuk cold storage maupun keperluan lainnya akan dihitung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semuanya disusun menjadi laporan yang diserahkan setelah 6 bulan mereka tinggal di desa terpencil. Laporan tersebut kemudian diserahkan kepada pemerintah, lalu pemerintah membangun pembangkit listrik sesuai dengan hasil laporan. Ini bertujuan supaya proyek-proyek energi terbarukan yang dibuat pemerintah tepat sasaran, sesuai kebutuhan masyarakat setempat.
Bagaimana proses seleksi PETA tersebut?
Penanggung Jawab Program PETA, Tri Mumpuni, menjelaskan bahwa seleksi diawali dengan pengumuman open recruitment PETA melalui media sosial seperti Twitter dan Facebook.
Orang-orang yang mau mendaftar menjadi PETA diminta mengirimkan Curriculum Vitae (CV), esai, dan video berdurasi 5 menit yang menjelaskan alasan ingin bergabung dengan PETA.
"Kita blast lewat sosial media, lalu kita seleksi dengan cara mereka harus mengirimkan CV, memmbuat esai, dan harus membuat film durasi 5 menit supaya kelihatan gestur mereka serius atau tidak," kata Tri dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/5/2016).
Di tahap selanjutnya, calon-calon anggota PETA diwawancara satu per satu di kotanya masing-masing. "Wawancara waktu itu yang di Jakarta dengan tim di Jakarta, yang Jogja ke Yogya, Surabaya ke Surabaya, kita keliling ke seluruh Indonesia. Kita ingin menggaet sebanyak mungkin, Alhamdulillah kita dapat orang Jawa dan dari luar Jawa, ini sangat berimbang," papar Tri.
Calon yang lolos tahap wawancara diundang ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan. Pelatihannya terdiri dari pelatihan teknis, mental, dan jungle survival. "Setelah berhasil dari wawancara, merekaΒ diundang ke Jakarta, diseleksi lagi waktu pelatihan survival," tukasnya.
Seleksi dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan teknis pendaftar untuk membantu melistriki desa-desa terpencil dengan energi terbarukan, daya juang, kemampuan membangun masyarakat, dan keikhlasan untuk mengabdi pada masyarakat.
"Yang lolos harus mempunyai kompetensi keteknisan, punya knowledge. Kedua, kompetensi kejuangan, mustahil kalau anak mal yang biasa hidup enak mau dikirim ke desa terpencil. Ketiga, harus mampu membangun masyarakat. Terakhir, ketulusan. Tanpa ketulusan mustahil itu semua bisa dikerjakan," Tri menerangkan.
Sebagai informasi, pengiriman Patriot Energi ini merupakan program lanjutan, di mana angkatan pertama sebanyak 80 anak muda telah memulai tugasnya di bulan Oktober tahun 2015 silam dan telah kembali ke Jakarta pada akhir Maret 2016 lalu.
Pada seleksi gelombang kedua, ESDM memperoleh 500 pendaftar PETA, lalu setelah diseleksi didapat 85 orang pemuda-pemudi. 85 orang PETA ini akan memulai latihan pada hari ini sampai 2 bulan ke depan. Mereka akan dikirim ke pada bulan Juli.
Penempatan para Patriot Energi akan dibagi ke dalam tiga tipe. Sebanyak 85 orang patriot dari angkatan ke-2 akan ditempatkan di desa yang sedang dilakukan instalansi pembangkit listrik baru, 17 orang peserta dari patriot angkatan ke-1 akan ditempatkan kembali di desa yang sama untuk menyelesaikan sosialisasi lanjutan, sementara 20 peserta sisanya akan ditempatkan di daerah perbatasan di Papua dan lokasi yang tingkat kesulitannya lebih tinggi. (ang/ang)











































