Follow detikFinance
Selasa, 10 Mei 2016 16:22 WIB

Gubernur Kalbar: Kita Punya Uranium, Harusnya Tak Perlu Impor Listrik

Michael Agustinus - detikFinance
Foto: poll Foto: poll
Bengkayang - Selain punya minyak, gas, dan batu bara, Kalimantan juga memiliki uranium untuk bahan baku nuklir. Berdasarkan hasil eksplorasi Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), ada potensi uranium yang besar di Kalan, Kalimantan Barat (Kalbar).

Meski kaya akan sumber energi, ironisnya Pulau Kalimantan defisit listrik. Pemadaman bergilir alias byar pet adalah sesuatu yang biasa di Kalimantan. Kalbar bahkan sampai-sampai harus mengimpor listrik dari Serawak, Malaysia, demi menerangi 6 kota dan kabupatenya.

Gubernur Kalbar, Cornelis, mengaku miris dengan kenyataan ini. Daerah yang dipimpinnya punya uranium yang bisa menghasilkan listrik dalam jumlah sangat besar, tapi pemerintah pusat tak mau mengembangkannya.

Kalau saja potensi uranium ini digarap sejak dulu, Kalbar tentu tak butuh listrik impor dari negeri tetangga. Bukan hanya Kalbar, seluruh pulau Kalimantan bisa terlistriki dengan baik kalau dibangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

"Ada potensi nuklir, tapi kan nggak ada political will. Kalau saya lebih baik kita bangun sendiri listrik tenaga nuklir daripada impor," kata Cornelis usai rapat dengan Menteri Tenaga Hijau dan Teknologi Malaysia di Bengkayang, Kalbar, Selasa (10/5/2016).

Dia menegaskan, Kalbar adalah daerah yang aman untuk PLTN karena bebas gempa. Soal risiko dampak lingkungan, itu bisa dimitigasi dengan teknologi.

"Kita punya banyak uranium, bahan bakunya ada, daerah kita juga aman. Tapi kawan di atas (pemerintah pusat) maunya lain, apa boleh buat?" ucapnya.

Cornelis mengaku sebenarnya malu daerahnya harus mengimpor listrik. Tapi apa boleh buat, pemerintah pusat tak mau membangun PLTN dan dalam waktu dekat belum dapat membangun pembangkit-pembangkit listrik baru untuk menerangi Kalbar.

Rakyat di Kalbar tentu tak boleh dibiarkan terus menderita akibat byar pet, yang terpenting kebutuhan listrik mereka harus terpenuhi dulu. Maka jalan satu-satunya untuk saat ini adalah mengimpor listrik sembari menunggu pembangkit-pembangkit baru selesai dibangun.

"Kalau kawan sebelah (negara tetangga) bangun pembangkit, kita bisa beli listriknya, yang penting lampu hidup dulu. Kalau kita bangun sendiri kan biayanya mahal, lama, belum ada kepastian. Yang penting rakyat dapat terang," tutupnya. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed