Belajar Bangun Kilang, 105 Insinyur Pertamina Dikirim ke AS dan Prancis

Belajar Bangun Kilang, 105 Insinyur Pertamina Dikirim ke AS dan Prancis

Michael Agustinus - detikFinance
Rabu, 10 Agu 2016 11:15 WIB
Belajar Bangun Kilang, 105 Insinyur Pertamina Dikirim ke AS dan Prancis
Foto: Michael Agustinus
Jakarta - PT Pertamina (Persero) mengirim 105 insinyur ke Amerika Serikat (AS) dan Prancis untuk mempelajari teknologi kilang. Alih teknologi dibutuhkan untuk mendukung proyek-proyek pengembangan dan pembangunan kilang di dalam negeri.

Hingga 2025, Pertamina melaksanakan 4 proyek pengembangan kilang melalui Refinery Development Master Plan (RDMP) dan 2 proyek pembangunan Grass Root Refinery (GRR). Penguasaan teknologi sangat diperlukan, khususnya engineering design dan engineering review.

Pertamina mengirimkan 105 insinyur secara bertahap hingga Februari 2017. 25 orang insinyur ditempatkan di Prancis untuk belajar engineering design pada Axen di Paris, Prancis. 20 orang belajar engineering design pada UOP di AS. 20 orang mendalami engineering review juga di AS. Lalu 20 orang mempelajari engineering design dan engineering review ke Foster Wheller dan Betchel di Inggris.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto, menyatakan bahwa kesempatan belajar dan bertemu dengan insinyur-insinyur kelas dunia di luar negeri ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kemandirian energi nasional.

Dengan penguasaan teknologi, Indonesia bisa membangun kilang-kilang minyak sendiri sehingga suatu saat tak perlu lagi bergantung pada pasokan BBM dari luar negeri.



"Persaingan masa depan adalah teknologi. Hari-hari ini kita melakukan perubahan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan BBM. Kalau proyek ini selesai, targetnya lahir teknologi Pertamina, lahir license-license yang keluar di kita, apa yang bisa jadi standar. Teknologi harus kita rebut," kata Dwi dalam sambutannya saat melepas 105 insinyur di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (10/8/2016).

Direktur Pengolahan Pertamina, Rachmad Hardadi, menambahkan bahwa proyek kilang adalah proyek strategis yang mendapat perhatian khusus dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Indonesia tidak boleh hanya membangun kilang saja, tapi harus menguasai juga teknologinya.

"Kalau bangun kilang hanya keluar biaya pakai konsultan-konsultan asing, kita mengoperasikan saja. Pak Dirut ingin seluruh engineer Pertamina dikerahkan. Ini juga untuk meningkatkan kompetensi seluruh pekerja direktorat pengolahan," ucapnya.

Diharapkan alih teknologi ini dapat membuat proyek-proyek kilang di dalam negeri tuntas dengan lancar dan cepat, sehingga pada 2023 Indonesia bisa mencapai swasembada BBM.

"Kalau keenam proyek kilang tuntas, kita tidak impor BBM tahun 2023," tutup Hardadi.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads