Kemudian masih ada 364 ibu kota kecamatan (distrik) dan sekitar 3.500 desa yang belum berlistrik.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) lewat Nawacita telah menyatakan akan membangun Indonesia dari mulai pinggiran supaya kesejahteraan rakyat di daerah-daerah tertinggal bisa meningkat, tidak jomplang dengan kota-kota besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi membangun infrastruktur kelistrikan di Papua bukan pekerjaan mudah. Jangan bayangkan Papua seperti Jawa atau Sumatera yang sudah punya jalan raya sehingga satu daerah dan daerah lainnya sudah terhubung.
Di Papua, infrastruktur perhubungan masih belum memadai, banyak kabupaten yang terisolasi. Misalnya Wamena yang hanya bisa dijangkau dengan pesawat kecil karena belum ada jalan darat ke sana.
Kalau ke wilayah seperti ini, material untuk membangun pembangkit listrik dan jaringannya pun harus diangkut lewat udara, sudah tentu harganya jadi lebih mahal.
Foto: Michael Agustinus |
Lalu para pekerja PLN harus menembus hutan, pegunungan, tanah merah, lumpur, dan sebagainya untuk membangun jaringan listrik. Dalam salah satu foto, tampak para pekerja PLN harus berjalan perlahan melalui lumpur yang tingginya sepinggang sambil mengangkat tiang listrik di tengah hutan.
Dalam foto lain tampak pekerja PLN harus memanjat tiang-tiang setinggi kurang lebih 5 meter di tengah dinginnya pegunungan Papua. detikFinance sendiri telah merasakan hawa dingin selama 2 hari di sana, hampir seperti musim dingin.
Foto: Michael Agustinus |
Di tengah pegunungan Papua, pekerja PLN menancapkan tiang-tiang, membangun tower-tower, memasang kabel-kabel, dan sebagainya untuk mendistribusikan listrik kepada warga Papua.
Hasilnya, kini pedalaman Papua bisa mulai terang benderang. Pada 17 Agustus 2016 lalu, PLN sudah masuk ke Kabupaten Teluk Wondama, Raja Ampat, dan Pegunungan Arfak.
Kemudian di Hari Listrik Nasional tanggal ke-71 pada 27 Oktober 2016 kemarin, giliran 2 kabupaten di pedalaman Papua yang terang benderang berkat PLN, yaitu Kabupaten Deiyai dan Yahukimo.
Pada hari pertama mengalirnya listrik di Kabupaten Deiyai, 150 rumah telah menjadi PLN. Masih ada 500 rumah lagi yang menunggu untuk mendapat sambungan listrik dari PLN.
Foto: Michael Agustinus |
Yoel, salah satu penduduk Deiyai yang sudah menjadi pelanggan PLN, menuturkan bahwa sebelumnya ia terpaksa membakar solar untuk menyalakan genset agar rumahnya terang di malam hari. Biasanya Yoel menyalakan genset pada pukul 17.00 WIT sampai 22.00 WIT.
Untuk listrik selama 5 jam per hari itu, diperlukan 5 liter solar. Solar yang dibeli dari pengecer di Deiyai harganya Rp 10.000 liter. Artinya, setiap malam Yoel menghabiskan Rp 50.000 atau Rp 1,5 juta per bulan hanya untuk listrik 5 jam per hari.
"Saya (sebelum ada listrik PLN) biasanya setiap malam menyalakan genset. Sehari 5 liter, belinya di pengecer dekat sini, harganya Rp 50.000," ujar Yoel saat disambangi detikFinance di rumahnya, Jumat (28/10/2016).
Sekarang dengan adanya listrik PLN, Yoel bisa mendapat listrik 24 jam dengan harga yang jauh lebih murah. Pria yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Kabupaten Deiyai ini pun gembira, anak-anaknya sekarang bisa belajar tekun dan menonton televisi di malam hari.
Foto: Michael Agustinus |
"Saya sungguh senang sekali. Ini pertama kalinya listrik PLN masuk ke Deiyai. Sekarang anak-anak bisa belajar sampai malam," dia menuturkan.
Mudah-mudahan mengalirnya listrik ini membawa banyak manfaat bagi kehidupan warga Papua. Sebab, listrik adalah salah satu kunci untuk kemajuan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. (ang/ang)












































Foto: Michael Agustinus
Foto: Michael Agustinus
Foto: Michael Agustinus
Foto: Michael Agustinus