tu pun tak bisa beroperasi maksimal karena beberapa kilang sudah tua, hanya sekitar 800 ribu bph yang bisa diproduksi di dalam negeri. Dampaknya, 50% kebutuhan BBM Indonesia bergantung pada impor.
Berbanding terbalik dengan Indonesia, Singapura yang hanya berpenduduk 12 juta jiwa dengan kebutuhan BBM 150 ribu bph punya kilang minyak dengan kapasitas sampai 1,6 juta bph alias 2 kali lipat kapasitas total kilang-kilang Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kapasitas kilang kita 1,169 juta bph, tapi yang jalan cuma 800 ribu bph. Singapura itu kapasitasnya 1 juta lebih, padahal konsumsinya cuma 150 ribu bph," kata Menteri ESDM, Ignasius Jonan, dalam diskusi di Menara MNC, Jakarta, Jumat (11/11/2016).
Maka, Indonesia harus segera membangun kilang baru agar tak terus bergantung pada BBM impor dari Singapura. Tak hanya PT Pertamina (Persero), perusahaan swasta juga didorong membangun kilang.
"Harus Pertamina nggak? Kalau swasta mau bangun kilang boleh nggak? Silakan saja," tegas Jonan.
Pertamina sendiri sekarang sedang mengerjakan empat proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) untuk menambah kapasitas kilang Cilacap, Balongan, Dumai, dan Balikpapan. Apabila seluruh RDMP ini selesai, maka kapasitas keempat kilang itu akan naik dari 820 ribu bph menjadi 1,61 juta bph.
Selain itu, 2 kilang baru akan dibangun, yaitu New Grass Root Refinery (NGRR) Tuban dan Bontang. Masing-masing berkapasitas 300.000 bph. Semua proyek kilang ditargetkan selesai sebelum 2023. Kalau semuanya berjalan lancar, Indonesia tak lagi mengimpor BBM mulai 2023. (hns/hns)











































