Pembersihan tumpahan minyak dengan peralatan Lindungan Lingkungan Perairan (LLP) memakan biaya cukup besar. Setiap kali ada tumpahan minyak, perlu alat LLP seharga Rp 26,3 juta.
Sebuah tim dari Marine Region V Shipping, Direktorat Pemasaran PT Pertamina (Persero) berinisiatif membuat alat baru untuk mensubstitusi alat LLP yang mahal. Alat baru yang diciptakan berbahan dasar kulit durian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Peralatan LLP eksisting kita substitusi. Sebelumnya kita pakai oil sorbent, tidak selengket kuldur (kulit durian) buatan kami. Kita uji coba di perairan juga pakai kuldur dalam bentuk keset, langsung lengket semua minyaknya," kata salah satu anggota tim, Irwan Dwi Aprianto, dalam diskusi di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Kamis (17/11/2016).
Irwan menuturkan, ia dan timnya memulai riset ini sekitar Mei 2016 lalu, diawali dengan mencari bahan yang mampu menyerap minyak. Bahan itu harus mengandung pectin dan selulosa. Pectin untuk mengikat dan menggumpalkan minyak yang ditarik, dan selulosa yang sangat berpengaruh terhadap daya serap dan daya ikat terhadap minyak.
Saat mencari-cari bahan itu, ternyata di sekitar Terminal BBM Manggis banyak limbah kulit durian. Kulit durian pun diuji coba, juga beberapa bahan lain seperti kulit jeruk, kulit pisang, kulit mangga, dan serbuk kayu. Hasilnya, kulit durian yang paling bagus untuk menyerap minyak.
"Karakteristik kuldur (kulit durian) paling efektif kalau bersentuhan dengan minyak. Ini yang paling ideal untuk saat ini. Kita sudah lakukan uji tes di laboraturium, kita bandingkan kuldur dengan sorbent pillow yang sekarang banyak digunakan, daya serap kuldur lebih tinggi," paparnya.
Kulit durian mengandung pectin 2,56% dan selulosa 60%, itulah yang menjadi alasan kulit durian layak menjadi raw material alat pembersih tumpahan minyak di laut.
Kulit durian yang digunakan merupakan kulit durian bagian luar yang berwarna hijau, dipisahkan dari kulit berwarna putih yang mengandung zat lilin, lalu dikeringkan, diblender, serta diolah hingga berbentuk papan segi empat yang dapat menyerap volume lebih banyak.
Bahan baku berupa kulit durian diperoleh Pertamina melalui kerja sama dengan sebuah pasar swalayan. "Kita kerja sama dengan Food Mart Beachwalk Bali, kita ambil kulit durian sebagai alat pembersih tumpahan minyak. Kalau dari sana kan durian nggak musiman, ada terus," tutur Irwan.
Menurut perhitungannya, penggunaan kulit durian ini mampu menekan biaya penanggulangan tumpahan minyak hingga 71,7%. Biaya pembersihan tumpahan minyak pakai alat dari kulit durian hanya Rp 7,5 juta per tumpahan, hemat Rp 18,8 juta per tumpahan dibandingkan menggunakan oil sorbent yang harganya Rp 26,3 juta.
Penggunaan alat ini akan diperluas ke 123 terminal BBM Pertamina, ke depan tidak hanya di TBBM Manggis saja. "Kita sudah ada rencana mereplikasi ini di 123 terminal BBM Pertamina. Memang butuh waktu. Sedang berjalan prosesnya," tutupnya. (hns/hns)











































