Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 26 Nov 2016 15:42 WIB

Cerita PLN Libatkan Warga Lokal Masuk Keluar Hutan Garap 'Tol Listrik' di Sumbar

Michael Agustinus - detikFinance
Foto: Michael Agustinus-detikFinance
Sijunjung - Selain membangun pembangkit-pembangkit listrik, PT PLN (Persero) juga harus membangun jaringan transmisi alias 'jalan tol listrik' untuk memasok listrik ke masyarakat. Bagi PLN, membangun 'tol listrik' sebenarnya lebih menantang dibanding membangun pembangkit.

Pembebasan lahan untuk tol listrik lebih rumit dibanding pembangkit. Tol listrik terdiri dari menara-menara transmisi yang disambung dengan kabel setiap 300 sampai 350 meter.

Jarak antar tower 300-350 meter untuk 275 kV. Setiap tower membutuhkan lahan seluas 20 meter kali 20 meter, maka banyak sekali lahan yang harus dibebaskan. Untuk transmisi Kiliranjao-Payakumbuh, sepanjang 125 kilometer sirkit (kms) misalnya, perlu 373 menara transmisi.

Kalau menara transmisi berada di atas perbukitan di tengah hutan, tentu bahan-bahan bangunan dan alat-alat kerja sulit dimobilisasi dengan truk. Di Sumatera Barat (Sumbar), PLN melibatkan masyarakat lokal untuk mobilisasi alat-alat dan bahan bangunan ke tengah hutan.

Kebetulan masyarakat lokal ingin dilibatkan dalam proyek 35.000 MW. PLN dan masyarakat yang dipekerjakan sepakat menggunakan sistem 'langsir'. Penduduk lokal dibayar Rp 5.000 per 100 meter untuk mengangkut alat-alat dan bahan-bahan bangunan ke dalam hutan dan perbukitan.

Sebagai gambaran, kalau semen diturunkan di pinggir jalan raya, jarak dari jalan raya ke lokasi proyek di dalam hutan sejauh 2 kilometer atau 2.000 meter, maka penduduk lokal yang mengangkut 1 sak semen dari jalan raya ke lokasi proyek dibayar Rp 100.000.

"Pakai sistem langsir, Rp 5.000 per 100 meter untuk bawa bahan-bahan bangunan dari pinggir jalan sampai ke lokasi proyek. Masyarakat ingin ikut berkontribusi dalam proyek," kata Direktur Bisnis Regional Sumatera PLN, Amir Rosidin, saat meninjau proyek transmisi Kiliranjao-Payakumbuh, Jumat (25/11/2016).

Setelah pembebasan lahan dan pengangkutan bahan bangunan, barulah pembangunan menara transmisi dimulai. Tantangan pertama saat membangun menara transmisi adalah menghitung kemiringan setiap pondasi menara.

Lahan untuk transmisi tak selalu datar, tak jarang menara harus dibangun di perbukitan yang miring. Karena tanahnya miring, maka kemiringan setiap pondasi harus dihitung supaya menara dapat berdiri tegak.

Setiap tower membutuhkan 4 titik pondasi. Setiap titik membutuhkan lahan antara 5 meter kali 5 meter sampai 10 meter kali 10 meter. Kedalaman pondasi antara 3 meter sampai 3,5 meter. Kalau kemiringan pondasi salah, besi-besi menara transmisi tak bisa tersambung, tidak ada titik temunya.

Untuk menara transmisi yang dibangun di lahan datar, pembangunannya sekitar 5 hari setelah pondasi selesai. Tapi kalau dibangun di tanah miring, pembangunan 1 menara transmisi membutuhkan waktu 7-10 hari.

"Kalau (tanahnya) datar 5 hari. Yang sulit menentukan kemiringan kaki-kakinya, butuh orang yang ahli," kata Amir.

Jika pembangunan menara sudah selesai, selanjutnya dilakukan penarikan kabel (stringing). Tarik kabel membutuhkan alat khusus bernama puller. Jumlah puller yang dimiliki PLN masih terbatas.

"Alat puller kita masih terbatas, untuk menarik kawat. Di proyek transmisi Kiliranjao-Payakumbuh butuhnya 9, sekarang sudah ada 7. Kita sudah beli 40 set untuk seluruh regional di Indonesia," Amir menuturkan.

Jika kabel-kabel sudah terpasang di menara, jaringan akan diuji coba terlebih dahulu sebelum benar-benar mendistribusikan listrik. Bila uji coba berhasil, maka transmisi siap dioperasikan. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com