Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 05 Des 2016 11:40 WIB

Bos Medco: Eksplorasi Migas di Timur Tengah dan Afrika Utara Melimpah dan Murah

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: Ardan Adhi Chandra Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - Meningkatnya konsumsi bahan bakar minyak dalam negeri mendorong adanya peningkatan penemuan dan produksi minyak dan gas di lapangan-lapangan baru agar kebutuhan tersebut bisa terpenuhi.

Sayangnya, produksi migas di dalam negeri belum bisa diandalkan untuk memenuhi konsumsi dalam negeri, sehingga produksi atau eksploitasi migas di luar negeri menjadi hal yang penting.

Presiden Direktur Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro menyebutkan ada dua kawasan kaya minyak yang bisa dijajaki untuk eksploitasi minyak dan gas agar cadangannya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri.

Kedua kawasan tersebut adalah Timur Tengah dan Afrika Utara.

"Kerja sama dengan Timur Tengah kenapa sangat menarik, pertama kalau bicara cadangan migas setengah ada di Timur Tengah dan Afrika Utara," jelas Hilmi dalam Seminar Nasional Upaya Meningkatkan Investasi dan Kerja Sama antara Indonesia dengan Timur Tengah dan OKI di Hotel Millenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (5/12/2016).

Cadangan minyak yang besar di dua kawasan tersebut, terlihat dari banyaknya penemuan-penemuan baru sampai saat ini.

Melimpahnya cadangan minyak dan tingginya tingkat penemuan sumur-sumur baru di dua kawasan tersebut membuat biaya produksi menjadi murah.

"Discovery (penemuan sumur baru) yang besar-besaran sampai sekarang masih banyak terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara dengan biaya yang paling rendah," lanjut Hilmi.

Namun demikian, butuh pendekatan khusus dari pemerintah mengingat ketidakstabilan politik di kawasan-kawasan tersebut masih menjadi kendala utama dalam hal penjajakan kerja sama antar negara.

"Tapi politiknya yang jadi masalah seperti Arab spring," kata Hilmi.

Kestabilan politik suatu negara menjadi faktor pertimbangan yang penting sebelum memulai eksplorasi migas atau investasi lainnya.

"Investasi migas padat modal, berisiko tinggi, padat teknologi dan berjangka panjang yang memerlukan stabilitas politik, karena tanpa itu tidak comfortable," tutur Hilmi. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com