Dari dua program tersebut, PLN mengalokasikan dana Rp 2,5 triliun untuk 2017. Hal itu dilakukan guna mencapai target rasio elektrifikasi Indonesia Timur sebesar 97% di 2020.
Direktur Bisnis Regional Papua-Maluku PLN, Haryanto WS, mengungkapkan dana Rp 2,5 triliun itu terdiri dari Rp 1,7 triliun untuk Program Papua Terang dan Rp 800 miliar untuk Program Maluku Terang. Dana tersebut berasal dari Anggara Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam Program Papua Terang, PLN bakal mendistribusikan listrik ke 14 Kabupaten, 300 Distrik, dan 2.500 desa. Sedangkan untuk Maluku Terang, listrik akan disalurkan ke pulau-pulau terluar.
Haryanto mengaku, Program Papua Terang lebih sulit dilakukan ketimbang Maluku Terang. Sebab, kondisi geografis Papua harus melewati pegunungan yang hanya dapat dilalui menggunakan pesawat terbang. Sedangkan, kondisi geografis di Maluku hanya pulau-pulau, yang masih mudah dijangkau.
"Di sana (Maluku) lebih baik kondisinya karena di laut tapi masih mudah ditempuh dari laut. Diharapkan lebih cepat mencapai 97% karena lebih mudah dijangkau dan investasi enggak terlalu besar," katanya.
Sementara itu, General Manager PLN Papua dan Papua Barat, Yohannes Sukrislismono, mengatakan kendala pembangunan Papua Terang berada di kondisi geografis dan juga masalah pembebasan lahan. Oleh sebab itu, kata Yohanes, Pemerintah Daerah (Pemda) juga memiliki peran penting.
"Selain itu, akses komunikasi, karena listrik kan sudah pakai pulsa prabayar, untuk membeli pulsa token ini nanti jadi permasalahan sendiri. Itu yang kami beberapa waktu lalu bersinergi dengan Pemda, karena kami yakin yang melistriki di Pemda ini akan sukses semata-mata karena PLN sendiri, jadi Pemda kami ajak," tutur dia. (wdl/wdl)











































