Warga Papua Tak Keberatan Tanggung Biaya Asal Dapat Listrik

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Jumat, 16 Des 2016 13:34 WIB
Foto: Fadhly Fauzi Rachman
Jayapura - PT PLN (Persero) mendistribusikan listrik ke 60 desa di Papua yang belum merasakan listrik sama sekali. Salah satu cara pendistribusian PLN adalah dengan cara menyambung listrik dari jaringan terdekat.

Untuk setiap sambungan tersebut, pelanggan diwajibkan mengikuti ketentuan dengan menanggung biaya sambungan sekitar Rp 1 juta, tergantung dari besaran tegangan yang diinginkan. Cara tersebut digunakan di salah satu desa, yakni Desa Puai.

Menanggapi hal itu, warga Puai mengaku tak keberatan atas besaran biaya yang diberikan PLN.

"Tidak masalah kita bayar, yang penting listrik bisa masuk sini, tidak sebanding uang segitu. Yang penting kita dapat merasakan, dan anak-anak dapat belajar," ungkap salah seorang warga, Onesh, saat berbincang dengan detikFinance, di Desa Puai, Jayapura, Kamis (15/12/2016).

Onesh mengatakan, biaya tersebut jauh lebih murah dibandingkan dengan menggunakan genset yang hanya berfungsi beberapa jam saja.

"Kalau pakai genset mahal, karena setiap hari kita ada pengeluaran untuk beli bensin. Kalau di kota kan murah (harga bensin), tapi kalau sudah di sini kan mahal, bisa dua kali lipat," terang dia.

"Belum lagi, kita harus beli berapa liter untuk berapa jam. Sehari biasanya itu kita tiga liter, jadi kalau jam 7 malam mulai, paling jam 2 pagi sudah habis," lanjut dia.

Kini, kata Onesh, dengan hadirnya listrik di desa selama 24 jam setiap harinya, warga bisa mendapatkan banyak manfaat yang lebih baik. Dirinya juga mengatakan, selama ini ternyata warga telah berupaya untuk mendapatkan listrik ke desa.

"Warga sudah punya hati untuk memiliki lampu penerangan ini. Jadi setiap masyarakat mulai berupaya bagaimana dapat uang untuk membayar ini, semua warga berusaha untuk (dapat listrik) ini," kata dia.

"Kita bisa memasak dengan mudah, mencuci, tapi itu tidak terlalu penting. Yang penting kan anak-anak sekolah, bisa belajar, ada lampu (listrik) 24 jam," tuturnya. (drk/drk)