Kagumnya Jonan ke UEA, Kaya Minyak Tapi Genjot Energi Terbarukan

Laporan dari Abu Dhabi

Kagumnya Jonan ke UEA, Kaya Minyak Tapi Genjot Energi Terbarukan

Wahyu Daniel - detikFinance
Senin, 16 Jan 2017 15:14 WIB
Kagumnya Jonan ke UEA, Kaya Minyak Tapi Genjot Energi Terbarukan
Foto: Wahyu Daniel
Abu Dhabi - Uni Emirat Arab (UEA) merupakan produsen minyak terbesar nomor 3 dunia, dengan produksi 3 juta barel per hari. Tapi konsumsi domestiknya hanya 4-5% dari total produksi minyaknya. Meski kaya minyak, negara ini tidak mau bergantung pada energi fosil tersebut.

Hari ini, Menteri ESDM, Ignasius Jonan, mengunjungi Abu Dhabi untuk melihat perkembangan energi terbarukan di UEA, khususnya listrik energi matahari. Pagi ini Jonan menemui CEO Masdar City, Moh. Jameel Al Rahami, di Hotel Aloft, Abu Dhabi, Senin (16/1/2017).

Masdar merupakan perusahaan pengembang teknologi energi terbarukan di UEA. Energi terbarukan yang banyak dikembangkan di UEA adalah dari tenaga surya atau matahari.
Menteri ESDM Ignasius Jonan bertemu CEO Masdar CityMenteri ESDM Ignasius Jonan bertemu CEO Masdar City Foto: Wahyu Daniel

Dalam pertemuan tersebut, Jonan mendapatkan penjelasan dari Al Rahami soal negaranya yang tengah mengembangkan energi terbarukan yang ramah lingkungan atau hijau. Ini sebagai usaha mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan listrik dari energi matahari yang dihasilkan di negara ini sangat murah. Tak hanya listrik tenaga matahari, UEA juga membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Di UEA, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bisa memproduksi listrik dengan harga hanya US$ 2,99 sen/kWh alias Rp 390/kWh. Lebih murah dari Indonesia, Feed in Tariff untuk PLTS yang mencapai US$ 15 sen/kWh atau sekitar Rp 2.000/kWh.
Menteri ESDM Ignasius Jonan bertemu CEO Masdar CityMenteri ESDM Ignasius Jonan bertemu CEO Masdar City Foto: Wahyu Daniel

Jonan kagum melihat negara kaya minyak ini begitu gencar mengembangkan teknologi energi terbarukan.

"Tahun 1979-an masih banyak yang naik unta di sini. Tapi sekarang mereka hebat bisa mengembangkan teknologi terbarukan dengan harga murah. Kok kita kalah," kata Jonan, ditemui di Hotel Aloft, Abu Dhabi, Senin (16/1/2017).

Pria yang baru tiga bulan menjadi Menteri ESDM ini mengatakan, untuk harga listrik tenaga matahari, Indonesia mungkin tidak bisa menyamai, tapi setidaknya tidak mahal seperti saat ini.

Jonan mengatakan, energi terbarukan bisa menjadi alternatif melistriki desa-desa yang belum mendapatkan listrik. Namun tak hanya listrik yang tersedia, harganya pun harus terjangkau.
Menteri ESDM Ignasius Jonan bertemu CEO Masdar CityMenteri ESDM Ignasius Jonan bertemu CEO Masdar City Foto: Wahyu Daniel

"Arahan Presiden, rasio elektrifikasi di Indonesia harus 100% di 2019. Tapi tak hanya listrik yang tersedia, namun harga harus terjangkau," lanjut Jonan.

Perlu ada usaha untuk menurunkan tarif listrik di dalam negeri, khususnya dari energi terbarukan yang banyak dimiliki Indonesia. Itu jadi tantangan tersendiri bagi Jonan.

"Dulu saya bisa menurunkan tarif KRL dari Rp 12.000 menjadi Rp 6.000. Kalau cuma menaikkan tarif tidak perlu saya, tukang becak juga bisa," papar mantan Direktur Utama Kereta Api Indonesia (KAI) ini.

Banyak hal yang perlu diperbaiki, sehingga struktur biaya dari produksi listrik energi terbarukan bisa ditekan dan harga jualnya murah.

Dia mengingatkan, Indonesia tidak perlu meniru persis apa yang dilakukan UEA. Apalagi radiasi matahari di Indonesia tidak sebagus di UEA. Tapi Indonesia punya energi terbarukan lain. Indonesia kaya energi terbarukan dari panas bumi atau geothermal atau pun angin, yang juga bisa dikembangkan.
Menteri ESDM Ignasius Jonan bertemu CEO Masdar CityMenteri ESDM Ignasius Jonan bertemu CEO Masdar City Foto: Wahyu Daniel

Memang UEA bisa menyediakan energi terbarukan murah karena pajak yang murah. Jadi pajak impor produk teknologi energi terbarukan tidak ada, kemudian ada masalah pembebasan lahan karena lahan dimiliki negara.

Soal lahan, Jonan mengatakan pengembangan energi terbarukan bisa dilakukan di wilayah yang harga lahannya murah, jangan di tengah kota. Pemerintah Indonesia berencana mengundang pihak Masdar ke Indonesia untuk berbagi soal perkembangan energi terbarukan. (wdl/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads