Cadangan Minyak Blok Cepu Bertambah Lebih dari 100 Juta Barel

Michael Agustinus - detikFinance
Selasa, 24 Jan 2017 11:39 WIB
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Blok Cepu adalah penghasil minyak bumi terbesar kedua di Indonesia setelah Blok Rokan. Blok yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini produksi minyaknya sekarang sudah mencapai 185.000 barel per hari (bph), seperlima dari total produksi nasional yang sebesar 820.000 bph.

Tahun ini, produksi minyak Blok Cepu ditargetkan bisa digenjot sampai 200.000 bph. Tetapi meski produksinya dinaikkan, masa produksi Blok Cepu tak akan berkurang. Sebab, ada cadangan minyak baru di Blok Cepu.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Amien Sunaryadi, mengungkapkan bahwa ada penemuan cadangan minyak baru setidaknya 100 juta barel.

Cadangan minyak Blok Cepu yang tercatat saat ini 450 juta barel. Berdasarkan temuan ExxonMobil yang telah disetujui SKK Migas, Amien menyebut ada setidaknya 550 juta barel di Blok Cepu. Ini adalah cadangan terbukti (proven reserve) yang berstatus P1. Jadi untuk cadangan terbukti ada tambahan 100 juta barel.

Selain cadangan yang berstatus P1, masih ada ratusan juta barel lagi yang berstatus P2 atau masih potensi. Cadangan minyak Blok Cepu bisa mencapai 729 juta barel.

"Kebetulan reserve-nya setelah produksi ditemukan lebih besar dari yang diduga semula. Cadangan minyak Blok Cepu menjadi antara 550 juta barel sampai 729 juta barel. Sebelumnya 450 juta barel. Dari SKK Migas dan Mobil Cepu Limited sudah setuju angka 550 juta barel," kata Amien kepada detikFinance, Selasa (24/1/2017).

Cadangan P2 yang masih perlu dibuktikan berjumlah kurang lebih 179 juta barel. "Di luar yang 550 juta barel masih didiskusikan. Jadi paling enggak ada 550 juta barel, lumayan," ujarnya.

Angka cadangan minyak Blok Cepu sebesar 550 juta barel belum final, masih sangat mungkin bertambah lagi.

"Ini sedang diteliti dulu sebetulnya yang akurat berapa. Berdasarkan pengalaman operasi antara 550 juta sampai 729 juta barel. Yang sudah dipastikan tentu jadi P1. Yang masih dipastikan, statusnya P2," tutupnya.

(mca/mkj)