Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 06 Mar 2017 16:50 WIB

Proyek Kilang Pertamina Lebih Murah 50% dari Petronas, Kok Bisa?

Michael Agustinus - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Baru-baru ini, Saudi Aramco memutuskan menanamkan investasi US$ 7 miliar (Rp 93 triliun) ke proyek kilang minyak Petronas yang nilainya US$ 27 miliar. Proyek kilang minyak ini berdiri di selatan Johor, dekat perbatasan dengan Singapura.

Proyek ini dikenal dengan Refinery and Petrochemical Integrated Development Project, atau kilang minyak dan petrokimia terintegrasi. Saat ini, proyek tersebut sudah mencapai 50% dan ditargetkan selesai pada 2019.

Hampir bersamaan dengan itu, PT Pertamina (Persero) juga membangun 2 kilang baru, yaitu Grass Root Refinery (GRR) Tuban dan GRR Bontang. Kapasitas masing-masing kilang sama dengan yang dibangun Petronas di Johor, yakni 300.000 barel per hari (bph).

Tapi biaya pembangunan Kilang Tuban dan Bontang jauh lebih rendah. GRR Tuban yang dibangun Pertamina bersama BUMN perminyakan Rusia, Rosneft, biaya investasinya sekitar US$ 12-15 miliar atau separuh dari nilai kilang Petronas di Johor.

Kilang Bontang bahkan lebih murah lagi, total biaya investasi yang dibutuhkan 'hanya' sekitar US$ 8-10 miliar atau 40% biaya investasi Kilang Johor.

VP Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, menjelaskan biaya investasi bergantung pada konfigurasi kilang, lahan, dan fasilitas pendukung yang dibutuhkan. Faktor-faktor inilah yang menjadi pembeda biaya investasi proyek-proyek kilang Pertamina dengan Petronas.

"Biaya investasi sangat tergantung pada konfigurasi kilang, serta perluasan seperti integrasi dengan kompleks petrokimia, juga lahan dan instalasi pendukung yang dibutuhkan. Harus dicek kondisi seperti apa yang di negara lain," kata Wianda melalui pesan singkat kepada detikFinance, Senin (6/3/2017).

Ia menambahkan, biaya proyek GRR Bontang bisa relatif murah karena di Bontang sudah ada berbagai fasilitas pendukung yang dibutuhkan. "Bontang bisa kompetitif karena sudah tersedia berbagai fasilitas penunjang operasi yang dapat digunakan, seperti pembangkit listrik, infrastruktur air, jetty, sekolah, bandara, perumahan, rumah sakit," paparnya.

Selain itu, lahan Kilang Bontang sudah disediakan pemerintah, tak perlu pembebasan lahan lagi. "Lahan juga sudah kami siap sebesar 460 hektar milik negara yang dapat kami gunakan dengan mekanisme sewa," ucapnya.

Sebagai informasi, Pertamina sedang menjalankan proyek-proyek kilang. Ada 4 proyek modifikasi atau Refinery Development Master Plan (RDMP) yang dikerjakan Pertamina untuk meningkatkan produksi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri yaitu RDMP Cilacap, Balongan, Dumai, dan Balikpapan.

Apabila seluruh RDMP ini selesai, maka kapasitas keempat kilang itu akan naik dari 820 ribu bph menjadi 1,61 juta bph.

Selain itu, 2 kilang baru akan dibangun, yaitu GRR Tuban dan Bontang yang masing-masing berkapasitas 300.000 bph. Semua proyek kilang ditargetkan selesai sebelum 2023. Kalau semuanya berjalan lancar, Indonesia tak lagi mengimpor BBM mulai 2023, bahkan bisa ekspor BBM.

Pertamina sudah berencana mengekspor kelebihan produksi solar dari Kilang Bontang ke negara-negara tetangga se-regional seperti Filipina dan Australia. (mca/wdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com