Follow detikFinance
Senin 20 Mar 2017, 17:12 WIB

Misi di Balik Tur Raja Salman ke Asia

Wahyu Daniel - detikFinance
Misi di Balik Tur Raja Salman ke Asia Foto: REUTERS/Beawiharta
Singapura - Tur keliling Asia dilakukan oleh Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz ke sejumlah negara. Kunjungan yang cukup menghebohkan dan menjadi pusat perhatian ini punya misi tersendiri, yaitu mengokohkan posisi Arab Saudi sebagai pemasok minyak terbesar di Asia.

Benang merah dari sejumlah kesepakatan yang dilakukan Raja Salman di Malaysia, Indonesia, Jepang, dan China adalah untuk memperluas pasar produk minyak dan petrokimia Arab Saudi, lewat sektor hulu melalui perusahaan minyak terbesar miliknya yaitu Saudi Aramco.

Aramco melakukan kesepakatan investasi kilang di sejumlah negara, seperti Malaysia, Indonesia, dan China. Jadi, Aramco ingin agar bisnis hulunya makin berkembang.

"Strategi kami adalah menumbuhan sektor hulu," kata Chief Executive Officer (CEO) Saudi Aramco, Amin Nasser, seperti dikutip dari Reuters, Senin (20/3/2017).

"Pertumbuhan sektor ini sangat penting, dan semua yang berhubungan dengan pengolahan, petrokimia, menjadi ketertarikan bagi kami," ujar Nasser.

Arab Saudi memang selama ini punya pengaruh kuat di pasar minyak dunia lewat Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Namun bisnis minyak mentah saat ini tengah lesu karena turunnya harga karena melimpahnya pasokan.

Karena itu, Arab Saudi mengubah strategi bisnis minyaknya ke sektor hulu. Indikasi ini terlihat dari kesepakatan investasi US$ 7 miliar oleh Aramco dengan perusahaan minyak Malaysia, yaitu Petronas.

Baca di sini: RI dan Malaysia Sama-sama Dapat Rp 93 Triliun dari Raja Salman

Kilang yang akan dibangun Petronas dengan Aramco ini, berlokasi di selatan Johor, yang lokasinya dekat dengan Singapura Sebanyak 70% pasokan minyak untuk kilang yang rampung 2019 ini akan berasal dari Arab Saudi. Sehingga Arab Saudi memiliki pangsa pasar yang pasti untuk produk minyaknya.

Aramco juga membuat kesepakatan dengan Pertamina senilai US$ 5 miliar untuk perluasan kilang minyak. Pasokan minyaknya juga berasal dari Aramco.

"Investasi ini dilakukan untuk memperkuat posisi Aramco di Asia Tenggara," ujar Ekonom Saudi, Ihsan Buhulaiga.

Investasi Aramco di Malaysia juga membuat Saudi ikut menjadi pemain di pusat pengolahan minyak sekitar Singapura. Selama ini, pemilik kilang di wilayah ini adalah Exxon (AS), Shell (Belanda), dan Singapore Petroleum Corp yang dimiliki PetroChina.

"Saat anda bisa mengendalikan kapasitas kilang dan mampu mengirim produk petroleum dengan pasti, maka anda bisa menjadi pengatur harga," kata John Driscoll, Konsultan dari JTD Energy di Singapura.

Perubahan Aramco ke bisnis pengolahan dan petrokimia ini bisa membantu menaikkan valuasi atau nilai dari rencananya melakukan initial public offering (IPO) terbesar di dunia.

Pangeran Mohammed bin Salman mengatakan, nilai penjualan saham Aramco bisa mencapai US$ 2 triliun.

Kesepakatan bisnis Aramco dengan Malaysia dan Indonesia tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kilang pengolahan minyak, namun juga memperluas partisipasi Aramco di sektor petrokimia. Kapasitas kilang pengolahan Aramco saat ini adalah 5,4 juta barel per hari, dan targetnya mencapai 10 juta barel di 2030.

Kesepakatan investasi terbesar Arab Saudi adalah di China, yang nilainya mencapai US$ 65 miliar, mencakup sektor energi, manufaktur, dan taman hiburan.

Baca di sini: Raja Salman Terbang ke China, Teken Kerja Sama Proyek Rp 864 T (wdl/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed