Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 23 Mar 2017 18:31 WIB

Ada Kapal 'Genset Raksasa', Ongkos Produksi Listrik Lebih Murah

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: Ardan Adhi Chandra/detikFinance Foto: Ardan Adhi Chandra/detikFinance
Waai - PT PLN (Persero) mendatangkan Kapal Pembangkit Listrik atau Marine Vessel Power Plant (MVPP) berkapasitas 60 megawatt (MW) dari Turki. Dengan datangnya Kapal 'Genset Raksasa' ini, produksi listrik PLN pun bisa semakin murah.

Produksi listrik lewat Kapal 'Genset Raksasa' menggunakan bahan bakar minyak jenis Heavy Fuel Oil (HFO) yang harganya lebih murah dari solar industri. Harga HFO sekitar dua per tiga dari harga solar industri.

"Mesin pembangkit ini sendiri bahan bakarnya dua, satu BBM namanya HFO yang harganya dua per tiga dari solar. Harganya HFO Rp 4.500," jelas Direktur Bisnis Regional Maluku dan Papua Haryanto WS di Waai, Kabupaten Maluku Tengah, Kamis (23/3/2017).

Dari segi konsumsi bahan bakar pun lebih irit. Kapal 'Genset Raksasa' hanya membutuhkan 0,22 liter HFO untuk memproduksi per kwh listrik.

"Kemudian mesinnya sendiri sangat efisien karena konsumsinya 0,22, artinya 1 kwh hanya perlu 0,22 liter BBM. Kalau mesin besar 0,3 liter," tutur Haryanto.

Selain menggunakan HFO, bahan bakar produksi listrik di Kapal 'Genset Raksasa' ini bisa menggunakan gas. Terlebih lagi, pemerintah mendorong PLN untuk memanfaatkan gas sebagai sumber energi pembangkit khususnya Indonesia timur.

"Sekarang pemerintah berikan alokasi gas cukup banyak untuk pembangkit PLN termasuk di Indonesia timur. Di Tangguh ada gas sudah produksi dan kembangkan, kita harapkan bisa dapat gas dari sana," ujar Haryanto.

Meski demikian, PLN mengaku tidak mengambil untung dari penjualan listrik di Ambon. Bahkan PLN harus menutup kerugian dari penjualan listrik di salah satu pulau timur Indonesia.

"Lebih tinggi biaya pokok produksi (daripada harga jual). Kebijakan korporasi kita listrik di Indonesia timur enggak mikir untung rugi, yang penting elektrifikasi," kata Haryanto.

Tambah kapasitas

Kapal 'Genset Raksasa' ini memiliki kapasitas 120 megawatt (mw), namun PLN dalam perjanjian sewa kapal meneken 60 mw. Haryanto mengatakan, beban puncak listrik di Ambon sebesar 58 MW pada malam tahun baru 2016 lalu.

Saat ini, kapasitas listrik terpasang di Ambon sebesar 70 MW. Kehadiran Kapal 'Genset Raksasa' dari Turki ini sekaligus menggantikan peran pembangkit-pembangkit yang tidak optimal.

"Kedatangan mesin pembangkit ini sekaligue menambah kapasitas daya terpasang di Ambon. Juga menggantikan mesin-mesin yang sudah tua yang ada di sini," terang Haryanto

Haryanto menambahkan, dengan datangya kapal 'Genset Raksasa' sekaligus menjawab tantangan listrik Ambon dalam beberapa tahun ke depan. Dengan asumsi pertumbuhan beban puncak listrik sebesar 10% per tahun di Ambon, maka kebutuhan listrik di Ambon akan bertambah menjadi 105 MW di 2020.

"Dengan datangnya kapal ini menjawab kebutuhan listrik di Ambon masa depan. Kalau pertumbuhan beban puncak di sini maksimum 10% oer tahun itu katakan sekarang tahun ini 77 MW maka di 2020 105 MW," jelas Haryanto.

Dengan demikian, daya tarik investasi Ambon pun bisa meningkat dengan mencukupinya kebutuhan listrik.

"Bukan hanya memenuhi kebutuhan listrik as usual rumah tangga. Harapan kita akan datang investor ke Ambon buka bisnis di sini, buka lapangan kerja, mengurangi pengangguran, dan meningkatkan perekonomian rakyat," tutup Haryanto. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com