Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Askolani, mengatakan total kontribusi migas di periode 2012-2014, tidak jauh berbeda dengan nilai subsidi bahan bakar minyak, dan kelistrikan yang diberikan pemerintah, sebesar Rp 350 triliun.
"Untungnya tahun 2015 pemerintah mengubah kebijakan subsidi energi dan listrik. Kalau tidak diubah Pak Menteri, habis kita," ungkap Askolani di Energy Building, Jakarta, Jumat (24/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami masih bisa menjaga defisit di bawah tiga persen dari PDB (produk domestik bruto). Ini tantangan ke depan, dan bukan hanya tanggung jawab perusahaan migas," katanya.
RI Bukan Satu-satunya
Lebih lanjut, Askolani mengatakan, minimnya kontribusi migas dikarenakan dari kondisi harga minyak yang terus bergoyang. Bahkan ia mengatakan, bukan hanya Indonesia yang terkena dampak tersebut. Negara-negara lainnya seperti Rusia, Arab Saudi, maupun negara Timur Tengah lainnya juga ikut merasakan.
Askolani mencontohkan, Arab Saudi bahkan harus menaikkan harga BBM, supaya bisa menjaga keuangan negaranya, saat harga minyak yang terus menurun.
"Sehingga, tantangan ini bukan hanya bagi kita, tetapi industri migas di negara lain," tutur Askolani. (ang/ang)











































