Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 04 Apr 2017 11:39 WIB

2 Pengusaha RI Ini Berhasil Caplok Raksasa Tambang Asing

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Foto: Dikhy Sasra Foto: Dikhy Sasra
Jakarta - Indonesia jadi salah satu negara yang kaya sumber daya alam (SDA). Banyak bahan mineral yang bisa dikeruk di tanah air.

Perusahaan pun berlomba-lomba untuk memanfaatkan SDA Indonesia ini supaya bisa dinikmati masyarakat luas, mulai dari perusahaan lokal hingga asing.

Ada dua pengusaha nasional yang berhasil mencaplok perusahaan tambang asing yang selama ini beroperasi di Indonesia. Dua pengusaha tersebut adalah Arifin Panigoro dan Garibaldi 'Boy' Thohir.

Arifin Panigoro.Arifin Panigoro. Foto: Ari Saputra

Tahun lalu, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mengakuisisi saham PT Amman Mineral Internasional (AMI) yang mengendalikan 82,2% saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT), perusahaan tambang emas besar yang lokasinya di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Medco merupakan perusahaan milik Arifin yang dipimpin oleh adiknya, Hilmi Panigoro. Nilai akuisisinya mencapai US$ 2,6 miliar atau sekitar Rp 33,8 triliun.

Baca juga: Kisah Sukses Medco Ambil Alih Tambang Emas Newmont

AMI sebelumnya membeli saham NNT dari Newmont Mining Corporation dan Sumitomo Corporation. Ini merupakan salah satu transaksi structured finance terbesar di Asia Tenggara tahun lalu.

Sementara Boy Thohir, bersama 3 orang pengusaha Indonesia lain, 12 tahun lalu mengakuisisi PT Adaro Energy Tbk (ADRO), perusahaan tambang penghasil batu bara terbesar kedua di Indonesia yang awalnya dimiliki investor Australia, New Hope.

New Hope sudah masuk ke Indonesia pada 1992, tapi kondisinya jatuh bangun. Hingga pada 2005 New Hope berpikir harga batu bara sudah bagus, saatnya untuk keluar.

"Di situ lah saya sama Pak Teddy Rachmat lihat kesempatan, Pak Teddy kasih motivasi. Waktu itu Pak Edwin (Edwin Soeryadjaya) sama Pak Benny (Benny Subianto) sudah ada di Adaro, 60% dikuasai New Hope dan 40% oleh Pak Edwin dan Pak Benny. Singkat cerita, Pak Teddy bilang kita gabung saja sama mereka, why not? Makanya di 2005 kita take over dari New Hope. Kita bikin konsorsium baru yang terdiri dari Saratoga, Triputra, TNT, dan Persada Capital untuk take over Adaro Indonesia dari perusahaan asing," ujar Boy.

Garibaldi 'Boy' Thohir.Garibaldi 'Boy' Thohir. Foto: Michael Agustinus

Boy bahkan berhasil membuat Adaro lebih besar dibanding saat masih dipegang orang-orang asing. Produksi batu bara Adaro yang pada 2005 masih 24 juta ton sekarang sudah melompat hingga 52 juta ton alias lebih dari 2 kali lipat.

Kinerja perusahaan pun makin kinclong. Kini Adaro juga bukan hanya berbisnis di pertambangan, tapi juga di logistik batu bara dan pembangkit listrik. Ini membuktikan bahwa orang-orang Indonesia mampu mengelola kekayaan alamnya sendiri.

Baca juga: Strategi Boy Thohir Besarkan Adaro, dari IPO Hingga Ekspansi Bisnis (ang/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com