Namun, Menteri ESDM, Ignasius Jonan, mengungkapkan dirinya sudah membuat kesepakatan dengan Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi, lifting minyak di 2017 dinaikkan menjadi 852.000 bph, bertambah 10.000 bph dibanding target APBN 2017.
Sekretaris SKK Migas, Budi Agustyono, menyatakan akan melakukan upaya terbaik untuk meraih target yang sudah dijanjikan pada Jonan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agar target ini dapat dikejar, SKK Migas berupaya mempercepat proyek-proyek migas Pertamina di seluruh Indonesia. Pertamina diminta menggunakan teknologi-teknologi baru untuk menggenjot produksi minyak dari sumur-sumur tua.
Proyek-proyek migas yang sudah dijadwalkan juga diusahakan tidak molor, paling tidak sesuai jadwal atau bahkan kalau bisa lebih cepat.
"Sepanjang kita melakukan yang sudah disepakati, kemudian masing-masing perwakilan mempercepat proyek-proyek. Kami juga menggalakkan Pertamina yang punya 5 aset di seluruh Indonesia. Kami paksakan supaya mereka pakai teknologi paling cepat. Memang belum dilaksanakan 100%," tukas Budi.
Persetujuan untuk Work Program & Budget (WP&B) dan Authorization For Expenditure (AFE) juga dikebut, supaya para kontraktor bisa melakukan pengadaan lebih awal. Dengan begitu, proyek bisa lebih cepat.
"Kami juga mempercepat WP&B, AFE. Persetujuan sudah kami berikan dari Desember tahun lalu biar pengadaan lebih cepat," ucapnya.
SKK Migas juga berharap ladang-ladang migas yang menjadi tulang punggung produksi nasional tak mengalami gangguan tahun ini.
"Kami menggunakan asumsi. Misalnya Lapangan Banyu Urip sekarang produksi minyaknya 200.000 bph. Asumsi kami 200.000 bph terus sepanjang tahun. Tapi belum-belum suda ada kendala kemarin di awal tahun," tutupnya.
Sebagai informasi, lifting minyak pada kuartal I-2017 tak mampu mencapai target sebesar 815.000 barel per hari (bph). Per 31 Maret 2017, lifting minyak baru 787.800 bph atau 96,7% dari target yang ditetapkan dalam APBN 2017.
SKK Migas mengungkapkan, lifting minyak tak mampu mencapai target karena hal-hal yang kelihatannya sepele, seperti hujan badai, sekring putus, seal bocor, gangguan pada valve (alat pemutus aliran minyak/gas).
Cuaca buruk membuat kapal-kapal pengangkut minyak tak bisa beroperasi. Lifting (pengiriman minyak ke kapal) pun tak bisa dilakukan karena ombak terlalu besar. Kejadian ini menimpa Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, yang merupakan salah satu tulang punggung produksi minyak nasional.
Kebocoran seal, valve, mungkin hanya kerusakan kecil, tapi dapat menghentikan kegiatan produksi migas. Gangguan-gangguan inilah yang menyebabkan terjadinya unplanned shutdown (penghentian produksi yang tidak terencana), lifting jadi menurun. (mca/wdl)











































