Follow detikFinance
Selasa 25 Apr 2017, 14:25 WIB

Pertamina Teken Kontrak Impor Gas dari AS, ESDM: Harganya Murah

Michael Agustinus - detikFinance
Pertamina Teken Kontrak Impor Gas dari AS, ESDM: Harganya Murah Foto: Ari Saputra
Jakarta - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), Mike Pence, datang ke Indonesia pada 20-21 April 2017 lalu. Di tengah kunjungan Pence ini, beberapa kesepakatan bisnis antara Indonesia dan AS ditandatangani.

Di antaranya adalah kontrak jual beli gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) antara ExxonMobil dengan PT Pertamina (Persero). Penandatanganan kontrak disaksikan langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dan Mike Pence.

Pertamina bakal mengimpor gas dari ExxonMobil sebanyak 1 juta ton tiap tahun mulai dari 2025 sampai 2045.

Baca juga: Pertamina Impor LNG dari Exxon Mulai 2025

Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, mengungkapkan bahwa Pertamina memilih impor dari AS karena harga gas dari Negeri Paman Sam itu murah, lebih rendah dibanding gas impor dari negara-negara Timur Tengah.

"Kenapa AS? Harga gas di sana murah sekali. Dibanding Timur Tengah, masih lebih murah dari AS," kata Wirat dalam diskusi di Gedung Migas, Jakarta, Selasa (25/4/2017).

Kontrak impor ditandatangani sekarang mumpung harga gas sedang rendah. Dengan begitu, Pertamina bisa memperoleh harga yang efisien untuk jangka panjang. Tetapi harga LNG impor itu tak akan selamanya murah, ada klausul price review dalam kontrak jual beli.

"Biasanya kontrak gas selalu jangka panjang. Tapi ada klausul price review. Kalau ada kejatuhan atau lonjakan harga gas, bisa di-review," jelas Wirat.

Baca juga: RI-AS Deal Rp 130 Triliun, dari Impor LNG Hingga Senjata F-16

Meski harga gas dari AS murah, tapi ongkos transportasi gas dari sana ke Indonesia tentu tak murah karena jaraknya jauh. Wirat meminta Pertamina menghitung dengan cermat faktor biaya pengapalan LNG ini.

"Memang biaya transport harus dihitung. Dibanding Timteng, gasnya masih lebih murah tapi jarak angkut pasti lebih jauh," ucapnya.

Wirat menambahkan, kebutuhan gas domestik terus tumbuh, produksi gas dari dalam negeri kemungkinan sudah tidak cukup lagi sekitar tahun 2020. Maka perlu tambahan pasokan dari impor.

Kesepakatan impor gas ini merupakan langkah untuk mengantisipasi agar tidak terjadi krisis gas di dalam negeri pada masa mendatang. Kebutuhan gas industri dan pembangkit listrik harus terpenuhi supaya ekonomi bisa terus tumbuh.

"Kebutuhan gas kita naik terus. Pertumbuhan ekonomi kita nomor 3 setelah China dan India. Kita harus menjaga cadangan energi kita ke depan," tutupnya. (mca/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed