Follow detikFinance
Kamis 13 Jul 2017, 16:40 WIB

RI Tawari Turki Investasi Panas Bumi di Jawa Timur

Rois Jajeli - detikFinance
RI Tawari Turki Investasi Panas Bumi di Jawa Timur Foto: Rois Jajeli/detikcom
Surabaya - Investasi di bidang energi, terutama geothermal di Jawa Timur cukup menjanjikan. Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun menawarkan peluang investasi tersebut ke Duta Besar Turki di Indonesia, agar disampaikan ke pengusaha asal Turki.

"Kami memiliki pengalaman kedatangan investor Turki yang akan investasi geothermal di Jawa Timur. Saya berharap, investasi ini bisa ditindaklanjuti," kata Gubernur Jawa Timur Soekarwo kepada wartawan usai menerima kunjungan Dubes Turki di Indonesia Mehmet Kadri Sander Gurbuz di gedung negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Kamis (13/7/2017).

Soekarwo menerangkan, Turki memiliki perusahaan-perusahaan yang berpengalaman di bidang pengelolaan energi geothermal. Menurut Soekarwo, ada salah satu perusahaan dari Turki yang sebelumnya tertarik untuk berinvestasi geothermal di Gunung Arjuno dan Welirang.

Soekarwo juga menambahkan, selain di kedua titik tersebut. Potensi investasi energi geothermal juga ada di Gunung Lawu, Gunung Ijen, Gunung Argopuro.

"Potensinya bisa menghasilkan energi geothermal hingga 3.200 megawatt," tuturnya.

Selain membahas potensi investasi di bidang energi geothermal, Jawa Timur juga menjalin kerja sama di bidang lainnya seperti perdagangan komoditas non migas.

Pada 2016, perdagangan Jawa Timur dengan Turki mengalami surplus US$ 22,58 juta. Nilai ekspor mencapai US$ 93,50 juta. Sedangkan impor dari Turki US$ 70,92 juta.

Selama periode 2013 sampai Februari 2017, Jawa Timur hanya mengalami defisit di Tahun 2015 yakni sebesar 12,77 juta dolar amerika. Sedangkan pada Februari 2017, Jawa Timur surplus US$ 7,71 juta dolar.

Kerja sama infrastruktur

Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, komoditas utama non migas Jawa Timur yang diekspor ke negeri dua benua itu yakni, lemak dan minyak hewan atau minyak nabati. Karet dan barang dari karet. Barang dari kayu. Bahan kimia organic. Hingga Staple buatan.

Sedangkan komoditas non migas yang diimpor dari Turki yakni, hasil penggilingan tembakau, bahan kimi anorganik, buah-buahan, garam, kapur hingga mesin pesawat mekanik.

"Masyarakat Indonesia sejak dulu sudah dekat dengan Turki. Kerjasama bilateral Indonesia-Turki juga berjalan dengan baik," terangnya sambil menambahkan, politik keislaman, kebudayaan, industri dan ekonomi sudah mengenal baik.

"Kita harapkan, Turki bisa memperkuat kembali hubungannya dengan Indonesia, khususnya Jawa Timur," jelasnya.

Dubes Turki Mehmet Kadri Sander Gurbuz mendukung pernyataan dari Gubernur Soekarwo. Katanya, kedua negara memiliki hubungan baik di berbagai bidang diantaranya ekonomi, politik, budaya hingga pendidikan.

"Dua negara ini juga memiliki kesamaan dengan jumlah penduduk muslim terbesar dan menerapkan demokrasi," kata Mehmet.

Menurutnya, hubungan kedua negara tidak hanya sekedar mencari uang. "Tapi, hubungan dan kondisinya tersebut, menjadikan kedua negara memiliki hubungan yang tulus," terangnya.

Mengenai pembicaraan tentang potensi investasi di bidang energi geothermal, kata Mehmet, salah satu ketertarikan pengusaha Turki adalah pengembangan energi geothermal di Jawa Timur.

"Kami juga melihat Indonesia membutuhkan tambahan energi. Ini salah satu ketertarikan pengusaha turki untuk mengembangkan energi geothermal," tuturnya.

Selain bicara pengembangan energi, juga membahas pembangunan infrastruktur jalan tol, pelabuhan hingga bandara (airport). Apalagi, Turki adalah negara nomor dua di dunia yang memiliki keahlian di bidang konstruksi.

"Ini salah satu bentuk kerja sama yang bisa dilakukan Turki dengan Jawa Timur," jelasnya. (roi/hns)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed