Follow detikFinance
Senin 17 Jul 2017, 13:07 WIB

Ahli-ahli Mobil Listrik Era Dahlan Iskan Bakal Dipanggil Lagi?

Michael Agustinus - detikFinance
Ahli-ahli Mobil Listrik Era Dahlan Iskan Bakal Dipanggil Lagi? Foto: Jhoni Hutapea
Jakarta - Sepuluh tahun lagi, mobil listrik diperkirakan bakal menggantikan mobil-mobil berbahan bakar minyak. Perubahan besar itu harus diantisipasi oleh Indonesia. Maka pemerintah mendorong pengembangan mobil listrik di dalam negeri.

Sebenarnya pengembangan mobil listrik bukan wacana baru di Indonesia. Di era pemerintahan sebelumnya, proyek mobil listrik sudah dimulai oleh Menteri BUMN, Dahlan Iskan.

Kala itu Dahlan melibatkan beberapa insinyur mobil listrik yang tadinya bekerja di luar negeri seperti Ricky Elson, Danet Suryatama, dan Dasep Ahmadi. Ketika rezim berganti, nasib ahli-ahli mobil listrik Dahlan Iskan tak jelas.

Bahkan salah satunya sekarang harus mendekam di penjara karena dituding merugikan negara dalam pengadaan mobil listrik untuk gelaran APEC tahun 2013.

Kini rezim baru menggaungkan kembali pengembangan mobil listrik. Kali ini gagasan datang dari Menteri ESDM, Ignasius Jonan, yang mengirim surat langsung ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Juni lalu.

Apakah ahli-ahli mobil listrik era Dahlan Iskan akan kembali dilibatkan lagi?



Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, tidak menutup kemungkinan tersebut. Ia mengatakan, Indonesia sudah punya banyak orang-orang pintar yang ahli dalam pembuatan mobil listrik. Potensi-potensi yang ada harus dimaksimalkan.

"Orang Indonesia itu yang pintar banyak sekali kok, cuma kita enggak kasih kesempatan, sayang sekali," kata Luhut, saat ditemui usai Kongres Teknologi Nasional di Gedung BPPT, Jakarta, Senin (17/7/2017).

Luhut yakin, ilmuwan-ilmuwan Indonesia bisa menciptakan teknologi mobil listrik yang andal kalau diberi kesempatan.

Ia menambahkan, para ahli dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga harus dilibatkan. Semua potensi di dalam negeri harus dikoordinasikan agar pengembangan mobil listrik sukses.

"BPPT saya kira punya peranan penting. Pak Unggul (Kepala BPPT) ternyata sudah ada prototype-nya mobil listrik. Kita coba," tukas dia.

Kalau tak segera membangun industrinya di dalam negeri, mobil-mobil listrik impor akan membanjiri jalanan di Indonesia pada masa depan. Makanya Indonesia harus menguasai teknologi dan memproduksi mobil listrik secara massal. Itu untuk mengamankan pasar domestik supaya tak dicaplok negara lain.

Jika Indonesia berhasil mengembangkan mobil listrik, bukan hanya impor kendaraan bermotor saja yang turun, tapi juga impor BBM. Dampaknya sangat positif buat perekonomian nasional.

"Menurut saya pengembangan mobil listrik mesti kita antisipasi karena akan berdampak pada pengurangan konsumsi bahan bakar fosil. Kalau itu terjadi, kita jangan jadi market orang dong," pungkasnya. (mca/wdl)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed