Follow detikFinance
Kamis 12 Oct 2017, 16:26 WIB

RI Berencana Gandeng Thailand Kembangkan Bahan Bakar Nabati

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
RI Berencana Gandeng Thailand Kembangkan Bahan Bakar Nabati Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance
Jakarta - Pemerintah terus mendorong penggunaan bioetanol sebagai alternatif pilihan bahan bakar. Namun, masih ada kendala karena harga jual bahan bakar nabati itu lebih mahal dibanding bahan bakar minyak, seperti pertamax 92.

Etanol yang digunakan untuk bahan bakar sendiri disebut dengan Fuel Grade Ethanol (FGE) yang memiliki tingkat kemurnian 99.5%. Untuk meningkatkan kadar etanol hingga mencapai kadar kemurnian 99.5% ini dibutuhkan proses penyulingan dan dehidrasi.

Etanol yang ada di dalam negeri kebanyakan hanya dimanfaatkan sebagai bahan dasar makanan atau bahkan minuman beralkohol. Sebab untuk meningkatkan kadar kemurnian etanol menjadi 99,5% diperlukan cost yang tinggi.


Dalam sidang ke-23 Dewan Energi Nasional (DEN), penerapan bioetanol sebagai bahan bakar terbarukan masih terus dikaji. Ada sejumlah cara yang bisa dilakukan guna merealisasikan bioetanol ini menjadi bahan bakar.

Anggota DEN, Rinaldy Dalimi, mengatakan pembahasan bioetanol memang belum detail. Tapi ada rencana akan melakukan swap atau pertukaran dengan Thailand yang memiliki etanol dengan tingkat kemurnian tinggi.

"Jadi Thailand kasih ke kita etanol, kita kasih ke Thailand biodiesel. Etanol Thailand yang sudah fuel grade," kata Rinaldy di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (12/10/2017).


Dia melanjutkan, rencana pertukaran komoditas itu sedang didiskusikan bersama dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian ESDM.

"Kita minta kepada Menteri Perindustrian (Airlangga Hartarto) dan Menteri Perdagangan (Enggartiasto Lukita) untuk mendiskusikan itu. Karena itu menguntungkan kita juga kalau itu bisa dilakukan," katanya.


Selain itu, dirinya mengatakan, perlu adanya insentif dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) agar etanol bisa dikembangkan di dalam negeri. Dirinya khawatir jika nanti ada produsen mau mengembangkan bioetanol, pengenaan pajaknya akan disamakan dengan etanol untuk makanan.

"Tadi diskusinya itu dikhawatirkan kalau-kalau, etanol itu kan dikhawatirkan jadi minuman. Kalau etanol yang food grade kan seharusnya tidak sama dengan fuel grade (untuk bahan bakar) pajak masuknya. Yang begini-begini kita diskusikan," tuturnya. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed