Follow detikFinance
Selasa 17 Oct 2017, 19:47 WIB

Soal Masih Tingginya Harga Gas Industri Ini Kata Darmin

Hendra Kusuma - detikFinance
Soal Masih Tingginya Harga Gas Industri Ini Kata Darmin Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengungkapkan bahwa harga gas untuk industri masih banyak dikeluhkan lantaran masih tinggi.

Padahal, pemerintah telah menerbitkan aturan pengaturan harga gas industri melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 40 Tahun 2016 tentang Harga Gas Bumi untuk industri tertentu.

Sampai saat ini, baru beberapa perusahaan saja yang mendapatkan potongan harga gas, seperti PT Kaltim Parna Industri, PT Kaltim Methanol Industri, PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Pupuk Kujang Cikampek, PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Petrokimia Gresik, dan PT Krakatau Steel.

"Yang banyak persoalan dan belum dapat yaitu sekarang masih terus mengeluh karena ada sejumlah industri yang cukup banyak terpengaruh oleh tingginya harga gas merada competitiveness-nya terpengaruh," kata Darmin di Bina Graha Kantor Staf Presiden (KSP), Jakarta, Selasa (17/10/2017).

Menurut Darmin, tingginya harga gas disebabkan oleh banyak faktor. Dari mulai biaya produksi saat sumur gas mulai dibor hingga biaya distribusi gas dari sumbernya hingga diterima oleh industri.

Dalam hal distribusi, darmin menyebut banyak pihak yang terlibat yang seringkali perusahaan penjual gas yang terlibat tak diketahui sebelumnya oleh pemerintah.

"Marketing (trader gas) ada macam-macam, tahu-tahu ada perusahaan yang menjualnya (menjual gas). Kami juga enggak tahu itu.

Keterlibatan perusahaan penjual gas itu lah yang membuat harga gas yang sampai ke industri masih mahal saat ini meskipun pemerintah sudah menugaskan BUMN di sektor distribusi gas untuk menurunkan biayanya.

"Maka harga gas itu lebar sekali range-nya. Artinya sulit untuk membuat harganya sama," jelas dia.

Mantan Dirjen Pajak ini bercerita bahwa pemerintah membutuhkan debat panjang dalam menurunkan harga gas di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, dari US$ 13,5 per MMBTU hanya turun menjadi US$ 10 per MMBTU. Berdasarkan Permen Nomor 40/2016, harga gas diwilayah tersebut harusnya US$ 9 per MMBTU.

Menurut dia, SKK Migas dan Kementerian ESDM untuk melakukan evaluasi terkait dengan tingginya harga gas. Darmin mengungkapkan, pemerintah yang bersangkutan bisa mengecek langsung penyebab tingginya harga gas di Sei Mangkei.

"Saya kemarin-kemarin tanyakan ke Jonan solusinya apa Seimangkei. Boleh enggak impor?, Ya memang agak ironis kita ada gas. Kalau bawa dari Sei Mangkei ceritanya agak beda. Kayaknya salah satu yang kami sarankan adalah itu, kalau dia di atas yang dikeluarkan produksi yang di dalam ya impor saja," tukas dia. (dna/dna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed