Follow detikFinance
Selasa 24 Oct 2017, 16:51 WIB

Cerita Perjuangan Menerangi Pulau Terluar RI di Samudra Hindia

Fadhly F Rachman - detikFinance
Cerita Perjuangan Menerangi Pulau Terluar RI di Samudra Hindia Foto: Lamhot Aritonang
Bengkulu - Seluruh desa di Pulau Enggano, Bengkulu, telah mendapatkan aliran listrik dari PT PLN (Persero). Hal itu ditandai dengan adanya tambahan dua mesin pembangkit diesel (PLTD) berkapasitas masing-masing 500 kiloWatt (kW).

Dari enam desa yang ada di Pulau tersebut, yakni Desa Ka'ana dan Desa Kahyapu, baru mendapatkan aliran listrik pada Senin (23/10/2018) kemarin.

Selain itu, PLN juga membangun jaringan listrik tegangan menengah sepanjang 36 kilometer sirkit (kms), jaringan tegangan rendah sepanjang 21 kms, serta 16 gardu distribusi total kapasitas 50 kilo Volt Ampere (kVA) di sana.

General Manager PLN Wilayah Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu (WS2JB), Daryono, mengatakan penambahan mesin dan jaringan ini mampu melistriki enam desa dengan potensi 879 pelanggan rumah tangga yang ada.

"Sejak PLN hadir di Pulau Enggano Agustus 2016 lalu, sebagian masyarakat sudah menikmati listrik yang menerangi rumah-rumah mereka, namun belum seluruh desa dari 6 desa yang ada yang sudah menikmati listrik. Baru desa Malakoni dan desa Apoho di Pulau Enggano dengan total 162 pelanggan yang sebelumnya sudah bisa menikmati listrik PLN," kata Daryono dalam keterangan tertulisnya, Selasa (24/10/2017).

Tak mudah bagi PLN dalam menerangi pulau Enggano secara menyeluruh. Mulai dari proses pengiriman material seperti tiang, hingga proses pemasangannya sulit dilakukan.

Maklum, Pulau Enggano yang merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di samudra Hindia.

"Proses pengiriman tiang yang terlambat dikarenakan jadwal penyeberangan kapal hanya dua kali dalam seminggu, kondisi cuaca yang tidak mendukung seperti badai dan angin kencang sangat mengganggu pengiriman material, struktur tanah yang berpasir juga mempengaruhi dalam proses pemasangan konstruksi dan penarikan jaringan," kata Daryono.

Saat ini, kondisi kelistrikan di Enggano dipasok oleh tiga unit PLTD dengan kapasitas masing-masing 80 kW, 120 kW dan 50 kW atau total 250 kW. Selain itu, satu desa telah berlistrik yang mendapat aliran dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sedangkan tiga desa lainnya belum berlistrik.

Untuk kebutuhan bahan bakar PLTD 2x500 kW di Enggano, setiap bulannya membutuhkan 5 ton solar dan oli 40 liter dengan beban biaya seluruh operasional pembangkit mencapai Rp 56 juta.

Sebanyak 75% penduduk di Enggano merupakan pelanggan 900 VA dengan tarif listrik Rp 1.467/kWh. Sementara itu, biaya pokok produksi khusus di Enggano mencapai Rp 7.450/kWh.

"Walaupun BPP (Biaya Pokok Penyediaan) memang tinggi namun kami sadar, listrik yang baik akan membantu warga untuk dapat membangun dan meningkatkan taraf hidup yang lebih baik, dengan listrik yg handal, anak-anak bisa belajar serta perekonomian mulai menggeliat, untuk itulah penyediaan listrik untuk warga yang utama," jelas Daryono.

Sebagai informasi, hingga Oktober 2017 ini di wilayah kerja PLN WS2JB telah dioperasikan Listrik Pedesaan secara keseluruhan sebanyak 12 desa baru dan 8 desa lama di Propinsi Sumatera Selatan; 5 desa baru dan 2 desa lama di Propinsi Jambi; serta 4 desa baru di Propinsi Bengkulu.

Dari sejumlah desa yang direncanakan untuk dapat dialiri listrik pada tahun 2017 ini sebanyak 59 Desa (40 desa baru, 19 desa lama) di Sumatera Selatan, 50 desa (37 desa baru, 13 desa lama) di Propinsi Jambi dan 55 Desa (12 desa baru, 43 desa lama) di Provinsi Bengkulu. (dna/dna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed