Follow detikFinance
Rabu, 13 Des 2017 19:15 WIB

Kisah Mendebarkan 'Wanita Listrik' Terangi Desa Hingga Pernah Diculik

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: Puti Aini Yasmin/detikFinance Foto: Puti Aini Yasmin/detikFinance
Jakarta - Masih banyak daerah di Indonesia yang belum teraliri listrik, terutama daerah-daerah peslosok dan terpencil karena sulit akses infrastruktur untuk memasang instalasi kelistrikan. Namiun, kini, bukan hanya PT PLN yang berkontribusi menyediakan listrik.

Ada Tri Mumpuni atau yang dikenal sebagai 'Wanita Listrik' turut membantu melistriki desa-desa dengan Energi Baru Terbarukan (EBT). Bagaimana kisah Tri melistriki desa?

Dia mengaku sangat mencintai Indonesia. Mencintai negara membuat dirinya berpikir bahwa harus ada sesuatu yang harus diperbuat terhadap negeri.

Apalagi, seperti diketahui Indonesia memiliki kondisi perkembangan yang berbeda-beda di setiap daerah daerahnya. Ia memberi contoh seperti di daerah terpencil sulit untuk memiliki akses teknologi.

"Saya itu mencintai Indonesia jadi untuk mencintai Indonesia harus melakukan sesuatu yang merasa paling tidak beruntung ada masyarakat yang berada di daerah terpencil yang tidak memiliki akses teknologi, informasi, kadang-kadang resources," kata Mumpuni di Jakarta, Rabu (13/12/2017).

Namun keinginannya tersebut tak langsung berjalan mulus. Pasalnya saat ia mencoba membantu suatu daerah di Aceh dirinya justru mengalami pengalaman tak terduga, yakni penculikan.

Penculikan tersebut terjadi pada tahun 2008 di mana ia harus membayar sejumlah uang untuk menyelamatkan diri dan suaminya.

"Awal-awal berat. Kalau ngeklik itu saya pernah di Aceh diculik. Saya mau bantu mereka bangun listrik tapi terus kemudian orang yang kita bantu ini lihat kalau saya dekat dengan petinggi di Aceh terus dia minta uang," sambung wanita yang lahir 52 tahun yang lalu.

"Ya kita sama mereka lagi jalan mencari potensi air untuk membangun tapi tiba-tiba kita disekap sama suami saya masuk mobil muka ditutup, tangan dirantai, kaki dirantai dan mereka minta tebusan Rp 2 miliar tapi hanya mampu memenuhi seperempatnya dan ada orang lokal menegosiasi akhirnya berhasil dilepaskan," imbuhnya.

Ia pun mengaku bahwa pengalaman tersebut membuat dirinya sempat mengalami trauma selama 1-2 bulan. Hal tersebut membuat dirinya cemas untuk melakukan kegiatan dalam membantu daerah-daerah terpencil.

"Awalnya sempat trauma 1-2 bulan. Dulu kalau mau bangun di desa A terus ada orang sekitar datang dan minta lihat desanya 2 jam naik motor saya mau tapi saya sekarang mikir apa benar dibawa ke desanya atau tempat lain?" terangnya.

Namun pengalaman duka tersebut berhasil ia takklukan demi melistriki daerah di pedalaman. Ia menganggap itu hanyalah cobaan yang diberikan oleh Tuhan.

"Akhirnya memandang sebagai hal yang positif sebagai tes dari Tuhan. Sekarang pasrah saja karena hidup itu sudah ada yang ngatur," jelasnya.

Lantas, ke depannya bersama program patriot negeri ia berencana membidik hingga 100 daerah di tahun 2018. Sebelumnya, diketahui program tersebut bernama Patriot Energi. Namun di tahun 2017 berganti nama menjadi Patriot Negeri.

Ia mengaku perubahan nama ini terjadi berdasarkan kondisi masalah di daerah di mana bukan hanya energi, yang dibutuhkan namun pangan hingga sanitasi juga diperlukan.

"Karena dulu hanya ngomongin energi sekarang harus mampu menciptakan kedaulatan energi. Patriot energi itu mampu membuat kedaulatan energi di desa dan membuat pangan, menyediakan air bersih dan sanitasi," pungkasnya.

(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed