ADVERTISEMENT
Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 20 Des 2017 11:13 WIB

Dapat Lampu Tenaga Surya, Pulau Buru Kini Terang Benderang

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: Dok. Kementerian ESDM Foto: Dok. Kementerian ESDM
Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali memberikan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE). Kali ini, Desa Waengapan, Kecamatan Lolong Guba, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku mendapatkan 100 paket LTSHE agar masyarakat mendapatkan penerangan yang lebih baik.

Penyerahan LTSHE ini disambut antusias oleh warga dengan mempersembahkan tarian Cakalele saat tim Kementerian ESDM tiba. Secara simbolis penyerahan LTSHE dilakukan di Balai Desa Waengapan oleh Kepala Unit Pengendalian dan percepatan pembangunan infrastruktur (UP3I) Kementerian ESDM, Simon Laksmono Himawan kepada Kepala Desa Waingapan Antonnius Nurlatu.

Saat ini, di Indonesia terdapat sekitar 2.519 desa dengan 256.114 rumah yang masih gelap gulita. Untuk tahun 2017, LTSHE dipasang di lima provinsi dan diharapkan melistriki lebih dari 80 ribu rumah. Langkah ini dilakukan untuk menciptakan energi berkeadilan di Indonesia.

"Di seluruh Indonesia, masih ada desa yang belum beruntung. Sekitar 2.500 desa yang sama sekali belum disentuh oleh listrik. Keseluruhan rumah tangga dari 2.500 desa itu adalah berjumlah sekitar 250 ribu rumah tangga. Untuk tahun 2017, Kementerian ESDM merencanakan sekitar 80 ribu rumah tangga yang akan diberikan fasilitas Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE)," ujar Simon , Rabu (20/12/2017).

LTSHE, menurut Simon, diperuntukkan bagi rumah pedesaan yang secara geografis dan distribusi penduduknya tersebar serta sulit dijangkau jaringan PLN.

"Lampu ini adalah bagian dari pra elektrifikasi, berfungsi untuk penerangan dan untuk charge handphone. Tiga tahun dari sekarang PT PLN akan masuk ke lingkungan bapak-bapak, jadi nanti akan mendapatkan listrik secara penuh 24 jam. Kalau sekarang 2017, berarti paling lama tahun 2020 listrik masuk ke Desa Waingapan," kata Simon.

Desa Waengapan ditempuh dengan sekitar tiga jam perjalanan dari Bandar Udara Namrole, Kabupaten Buru Selatan. Jalan menuju Desa ini cukup berliku dengan tanjakan dan turunan yang cukup tajam. Tiga kilo meter menuju desa Waengapan, jalanan masih berupa tanah merah dan belum beraspal. Jika hujan turun, maka jalan akan sulit untuk dilalui.

Desa ini dihuni 276 jiwa, dengan mata pencaharian utama menyuling kayu putih dan berkebun. Beberapa di antaranya hidup tersebar di perbukitan.


"Terima kasih kepada Kementerian ESDM yang jauh-jauh datang mengunjungi kita di desa Waingapan. Terima kasih juga atas bantuan Bapak Presiden Jokowi, sehingga masyarakat kami dapat menikmati lampu di malam hari. Penghidupan kami di sini adalah memproduksi minyak kayu putih. Sebagian (dari) kami hidup memprihatinkan tersebar di hutan-hutan," ujar Antonnius.

Warga Waingapu sebelumnya menggunakan penerangan yang berasal dari getah pohon damar. Getah tersebut didapat dari Gunung Biru yang berjarak sekitar 20 kilo meter dari desa dengan waktu tempuh dua hari dua malam. Getah tersebut dimasukkan ke dalam ruas bambu dan kemudian dibakar, sebagaimana layaknya obor. Penerangan yang dihasilkan dari getah damar ini bertahan hanya sebentar.

"Dari dulu kita aslinya pakai getah damar. Getah Damar kita kasih masuk di bambu terus kita bakar. Kalau pakai minyak tanah, setengah mati Pak, karena tidak ada kendaraan. Minyak tanah harganya 10 ribu kadang 20 ribu. Dengan adanya penerangan ini, getah damar tidak dipakai lagi," imbuh Antonnius.

Desa Waingapan memiliki satu Sekolah Dasar Negeri, sementara untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), saat ini sedang dalam tahap pembangunan. Selama ini, dengan penerangan yang didapat anak-anak belajar hanya sebentar saja, karena asap yang ditimbulkan menyebabkan mata perih.


"Mau belajar bagaimana Pak, (getah) damar melelehnya cepat Pak, enggak sama seperti lilin. Asapnya juga perih ke mata, hitam ke langit-langit. Cepat meleleh juga itu obor yang dari (getah) damar. Makanya penderitaan di sini tidak sedikit Pak," lanjut Antonnius.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah menargetkan rasio elektrifikasi sedikitnya sebesar 97% pada tahun 2019, untuk itu Pemerintah membuat program pemberian LTSHE, terutama di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau oleh jaringan PT PLN.

"Dari sekitar 2.500 desa yang belum berlistrik, 80% di antaranya berada di Provinsi Papua, Papua Barat dan Maluku. LTSHE ini mengisi ruang antara, karena PLN membangun jaringan membutuhkan waktu yang lama dan kita harus mengejar rasio elektrifikasi sebesar 97% di tahun 2019," pungkas Simon.

Dapat Lampu Tenaga Surya, Pulau Buru Kini Terang BenderangFoto: Dok. Kementerian ESDM
(ara/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com