Follow detikFinance
Rabu, 31 Jan 2018 23:00 WIB

Bos Inalum Ngumpul Bareng Pengusaha Bahas Holding BUMN Tambang

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Danang Sugianto/detikFinance Foto: Danang Sugianto/detikFinance
Jakarta - Terbentuknya holding BUMN tambang beberapa waktu lalu menimbulkan banyak pertanyaan mengenai tujuan dan seberapa pentingnya pembentukan holding tersebut. Pertanyaan itu juga datang dari para pelaku industri tambang.

Oleh karena itu Energy Nusantara menggelar acara Up, Close and Personal with CEO Holding Pertambangan. Acara ini menampilkan Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium Persero (Inalum), Budi Gunadi Sadikin, sebagai pembicara.

Acara ini juga dihadiri perwakilan dari perusahaan-perusahaan tambang ternama seperti Medco, Vale, Ephindo, SWcorp, dan perwakilan Kadin.

Dalam acara itu, Budi menerangkan, ada 3 tujuan pembentukan holding BUMN tambang. Pertama, menguasai cadangan dan sumber daya mineral di Indonesia.


"Pembentukan Holding akan mendukung BUMN Industri Pertambangan dalam meningkatkan cadangan dan sumber daya baik melalui akuisisi sumber daya dan cadangan maupun melakukan eksplorasi sehingga dapat meningkatkan kemampuan bersaing dengan perusahaan pertambangan global," tuturnya di Kembang Goela, Jakarta, Rabu malam (31/1/2018).

Kedua, hilirisasi dan produk lokal. Dengan melakukan hilirisasi dengan optimal, maka BUMN Pertambangan akan menghasilkan produk yang menciptakan nilai tambah yang dapat berdampak signifikan terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia.


Ketiga, menjadikan holding BUMN tambang perusahaan berskala dunia san masuk dalam kategori perusahaan tambang di Fortune 500. Target tersebut diharapkan bisa tercapai dalam jangka menengah.

Menurut Budi untuk masuk dalam kelompok perusahaan tambang Fortune 500, holding BUMN tambang setidaknya harus memiliki pendapatan hingga Rp 291,1 triliun.


Target tersebut bisa saja tercapai dengan cepat jika holding BUMN tambang sudah mengempit 51% saham PT Freeport Indonesia (PTFI). Sementara saat ini holding baru memegang 9,36% saham PTFI yang dihibahkan dari pemerintah.

Budi percaya dengan porsi kepemilikan PTFI 51% maka rasio pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growt rate/CAGR) akan lebih cepat. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed