Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 26 Feb 2018 20:17 WIB

Pertamina Belum Tentu Kelola 8 Blok Terminasi

Fadhly F Rachman - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Kementerian ESDM telah menugaskan PT Pertamina (Persero) untuk mengelola delapan blok terminasi. Namun belakangan, blok-blok tersebut tak pasti diserahkan kepada perusahaan pelat merah tersebut.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Ego Syahrial mengatakan yang paling penting dalam mengelola delapan blok terminasi itu ialah yang bisa memberikan hasil yang terbaik untuk negara. Ego tak memberikan kepastian blok-blok tersebut harus dikelola oleh Pertamina.

"Saya bilang yang memberikan yang terbaik pada republik kita yang akan diberikan (blok terminasi)" kata Ego di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Senin (26/2/2018).


Menurutnya blok-blok terminasi tersebut bisa dikelola oleh siapa saja, asalkan mengikuti sejumlah ketentuan, contohnya seperti menjaga tingkat produksi serta menggunakan skema bagi hasil atau gross split.

"(Jadi) Ya siapa aja. Yang bisa menjamin, satu, produksi tidak turun, karena ini terminasi sudah pasti dipilih yang lebih baik untuk negara. Kedua, harus gross split. Harus memberikan lebih baik untuk negara," katanya.

Sementara untuk dua blok yang sebentar lagi habis masa kontraknya, yakni Blok Tuban dan Ogan Komering juga belum ditandatangani oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan.


Ego bilang, memerlukan tambahan waktu untuk bisa melanjutkan pengelolaan di dua blok tersebut. Di sisi lain, Pertamina juga belum memberikan jawaban hingga sekarang ini.

"(Dua blok) Ini kan 28 Februari. Tinggal 2 hari lagi, nggak mungkinlah kontrak ini bisa selesai. Pasti diperpanjang," katanya.

Walau demikian Ego belum bisa memastikan berapa lama perpanjangan waktu dibutuhkan. Dia hanya menjelaskan, secara umum untuk masalah seperti itu di industri migas tak bisa diselesaikan dengan cepat. Paling tidak dibutuhkan waktu sekitar enam bulan bahkan hingga satu tahun lamanya untuk bisa menyelesaikan.

"Nggak taulah itu (berapa lama diperpanjang). Kalau di industri migas nggak bisa cepat-cepat. Biasanya di industri migas itu enam bulan, satu tahun. Enam bulan lah misalnya. Long term kontrak," tutur dia. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed