"Memang, kenaikan Pertalite ini tidak bisa dihindari, karena adanya kenaikan harga minyak dunia. Tapi ada masyarakat yang keberatan dengan kenaikan harga itu. Imbasnya, masyarakat beralih ke Premium, dan Premium menjadi langka. Tentu dalam hal ini pemerintah harus hadir, dengan menambah pasokan Premium, agar tidak mengecewakan masyarakat," kata Taufik di Jakarta, Selasa (27/3/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Buat masyarakat yang kegiatan ekonominya membutuhkan BBM, tentu kenaikan Pertalite ini sangat berdampak. Apalagi dengan kenaikan ini, tentu masyarakat yang sudah beralih ke Pertalite dari Premium, akan merasa kecewa. Namun, ketika akan membeli Premium, juga langka. Tentu ini akan menambah kekecewaan masyarakat," ungkapnya.
Diketahui, Pertamina menaikkan harga Pertalite Rp 200 per liter pada Sabtu (24/3/2018) lalu. Kenaikan pertama dilakukan 20 Januari 2018 sebesar Rp 100 per liter. Dengan harga awal Pertalite Rp 7.600, sekarang menjadi Rp 7.800. Sementara harga Solar sebelumnya Rp 7.500 kini menjadi Rp 7.700. Kenaikan Pertalite disinyalir menjadi penyebab BBM Premium ludes seketika di berbagai wilayah. (ega/ara)











































