Follow detikFinance
Selasa, 05 Jun 2018 14:10 WIB

Nilai Akuisisi Pertagas Rp 35 T Dinilai Terlalu Murah

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyebutkan nilai akuisisi Pertagas ke PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN tidak lebih dari US$ 2,5 miliar atau sekitar Rp 35 triliun (kurs Rp 14.000).

Besaran angka tersebut menjadi pertanyaan. Padahal, hampir 40% saham PGN dimiliki oleh investor swasta.

"Kenapa saya sebut terlalu murah? Per tanggal 4 Juni kemarin, PE ratio PGAS sekitar 30. Karena tipe bisnisnya sama, seharusnya Pertagas juga dinilai dengan PE yang minimal sama dengan PGAS. Bahkan, harusnya lebih tinggi karena Pertagas mempunyai kondisi keuangan yang lebih sehat dari PGAS. DE ratio Pertagas hanya 0,4, sementara PGAS sekitar 1," ujar Ekonom Dradjad H Wibowo dalam keterangannya, Selasa (5/6/2018).


Keuntungan Pertagas tahun 2017 sebesar US$ 141 juta. Jika PE hanya 30, seharusnya harga Pertagas minimal US$ 4.23 milyar, sekitar Rp 59,22 triliun (kurs Rp 14000). Ini pun masih terlalu rendah karena PE Pertagas semestinya lebih tinggi dari PGAS.

Jika dijual ke PGN hanya US$ 2,5 miliar, berarti minimal Pertamina dirugikan US$ 1,73 miliar, atau kira-kira Rp 24,22 triliun. Pasalnya Pertamina adalah BUMN yang 100% milik negara, berarti secara kotor negara dirugikan kira-kira Rp 24 triliun, bahkan bisa lebih.

Hanya sekitar 60% dari kerugian itu yang kembali dikuasai negara, melalui kepemilikan saham Pertamina dan BPJS Ketenagakerjaan di PGN. Sisanya sebesar 40% dikalikan Rp 24,22 triliun atau setara Rp 9,7 triliun berpindah dikuasai investor swasta.


"Artinya, akuisisi ini berpotensi korupsi, karena negara secara netto dirugikan minimal Rp 9,7 triliun. Di sisi lain, akuisisi ini memperkaya orang lain, yaitu investor swasta pemegang saham publik PGAS," katanya.

Ia berharap Kementerian BUMN menghitung ulang agar Pertagas dihargai secara fair. Harap diingat, pejabat daerah yang menjual tanah negara di bawah harga pasar saja masuk penjara. Padahal nilainya hanya miliaran. Apalagi ini saham perusahaan yang bernilai triliunan. (ara/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed