Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 01 Agu 2018 16:58 WIB

Jonan Beberkan Alasan Blok Rokan Diserahkan ke Pertamina

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan membeberkan alasan Blok Rokan yang pengelolaannya diserahkan ke PT Pertamina (Persero). Dalam penjelasannya, Pertamina berhasil mengambil Rokan dari Cevron karena berani memberikan kontribusi yang lebih besar kepada negara.

"Pertimbangannya komersil, karena yang ditawarkan Chevron jauh lebih rendah kompensasinya pada pemerintah. Saya contohkan signature bonus itu kompensasi awal, yang ditandatangani itu commit untuk mendapat hak kelola Rokan selama 20 tahun itu US$ 784 juta dolar itu dibayar cash satu bulan," kata dia kepada detikFinance dalam acara Blak-blakan, di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (31/7/2018).


Ladang minyak terbesar di Indonesia ini sebelumnya menjadi rebutan PT Chevron Pacific Indonesia dan PT Pertamina (Persero), pemerintah akhirnya memberikan hak kelola 100% pada Pertamina untuk mengelola Blok Rokan. Diberikannya hak kelola Blok Rokan ke Pertamina juga didasarkan pada kontribusi ke pemerintah Indonesia dalam bentuk penerimaan negara.

"Arahan bapak presiden Blok Rokan itu mau diperpanjang ke Chevron atau untuk Pertamina itu berdasarkan pertimbangan. Saya sudah ke (Washington) DC bulan lalu saya juga ketemu CEO Chevron saya udah katakan ini diperpanjang atau tidak ini adalah bisnis adjustment. Komersial business to business jadi pertimbangan ekonomis saja siapa yang akan memberikan kompensasi kepada pemerintah Indonesia yang lebih tinggi. Nggak ada ini soal nasionalisasi atau Pemilu apalah nggak ada, arahan presiden clear," jelas dia.

Hal ini juga menepis isu soal kondisi keuangan Pertamina yang saat ini tengah 'seret'. Jonan menjelaskan, kondisi seret setiap orang berbeda beda, contohnya Pertamina yang diisukan seret tapi berhasil mengambil alih Blok Rokan.

"Loh ini buktinya Pertamina punya uang lah makanya. Seret ini kata sifat, terus gimana seretnya ini Pertamina harus bayar loh Rp 11 triliun dia bayar untuk mendapatkan hak kelola ini. Kemudian Pertamina juga komit untuk eksplorasi, ke depan jadi dia harus melakukan eksplorasi. Kalau ini di jumlah US$ 1,284 miliar dolar itu hampir Rp 18 triliun buktinya gimana nah hayo," jelas dia.


Jonan mengaku jika penawaran dari bagi hasil yang ditawarkan Chevron jauh di bawah Pertamina. Pertamina menawarkan bonus tanda tangan (signature bonus) yakni bonus yang menunjukkan kesungguhan perusahaan mengelola Blok Rokan sebesar US$ 784 juta atau setara Rp 11,3 triliun.

"Satu Pertamina akan memberikan signature bonus sebanyak US$ 784 juta kita syaratkan minimum US$ 700 juta yang dua ada komitmen untuk eksplorasi US$ 500 juta yang kita hitung itu dalam 20 tahun Pertamina akan bagi hasil untuk pemerintah itu Rp 850 triliun. Nah 20 tahun Anda tanya Chevron tawarnya berapa? Ini secara etis mungkin nggak baik kalau menang saya umumkan bisa saja tanya Chevron dia nawarkan berapa, yang dokumen yang dikelola oleh Wamen yang dilaporkan ke saya jauh di bawah itu. jauh di bawah itu," kata dia


Saksikan juga video 'Blak-blakan Jonan: Pertamina Rebut Blok Rokan':

[Gambas:Video 20detik]

Jonan Beberkan Alasan Blok Rokan Diserahkan ke Pertamina
(ara/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com