Follow detikFinance
Rabu, 22 Agu 2018 09:20 WIB

Nasib Freeport di Bawah Tanah

Ardhi Suryadhi - detikFinance
Tambang Terbuka Grasberg (Foto: Ardhi Suryadhi) Tambang Terbuka Grasberg (Foto: Ardhi Suryadhi)
Jakarta - Hiruk-pikuk truk pengangkut di tambang terbuka (open pit) Grasberg yang dikelola PT Freeport Indonesia (PTFI) tak lagi seramai beberapa tahun lalu. Grasberg sudah menua, dan tengah menunggu hari-hari terakhirnya.

Orang yang pertama melihat Gunung Grasberg adalah seorang Geologis Belanda, Jean Jacques Dozy pada tahun 1936. Dozy meilhat dan melaporkan adanya keganjilan tumbuhan di sebuah gunung yang terletak kurang lebih 4 km di sebelah utara-barat Ertsberg, tambang pertama yang dieksplorasi Freeport di Papua.

Dalam laporan geologinya, Dozy menamakan gunung tersebut sebagai Grasberg atau Gunung Rumput. Grasberg yang ditumbuhi oleh rumput, tampak kontras dengan daerah sekitarnya.

Setelah hampir lebih dari 30 tahun, catatan geologi menyebutkan bahwa di dunia ini hanya ada dua cebakan mineral tembaga tipe propiri yang dikategorikan mengandung cadangan lebih dari 1 miliar ton tembaga, yakni cebakan mineral tembaga tipe propiri di La Escondida di Chile yang ditemukan pada 1981 dan Grasberg di Indonesia ditemukan pada 1988.

Pada tahun 1997, berdasarkan klasifikasi besar cadangan dan kadar tembaganya, Grasberg merupakan tambang tembaga tiper propiri terbesar ketiga di dunia yang kandungan tembaganya diperkirakan lebih dari 1 miliar ton.

Namun berdasarkan kadar emasnya, Grasberg merupakan tambang terbuka tunggal tipe propiri yang mengandung kandungan emas terbesar dengan jumlah lebih dari 55 juta ons emas. Jadi bisa dibayangkan betapa besarnya sumber daya mineral - khususnya tembaga dan emas - yang disimpan di perut Grasberg.

Nasib Freeport di Bawah TanahData Produksi PT Freeport Indonesia tahun 2017 (Foto: PT Freeport Indonesia)


Namun setelah bertahun-tahun dieksplorasi, tambang terbuka Grasberg yang menjadi penyuplai hasil tambang utama Freeport telah mencapai titik akhir. Zulkifli Lambali, Kepala Teknik Tambang PT Freeport Indonesia (PTFI), memastikan kegiatan tambang di Grasberg akan berakhir 4 bulan lagi, atau hingga akhir tahun 2018.

"Tambang open pit kita di Grasberg merupakan tempat produksi utama saat ini, Kita rencanakan akan berakhir di tahun ini, kita menyebutnya akan ditutup," kata Zulkifli, saat berbincang dengan media di Tembagapura, Papua.

Freeport pantas terpukul pasca penutupan Grasberg. Zulkifli bahkan tak sungkan menyebut jika tahun 2019 nanti merupakan masa-masa berat bagi perusahaannya yang sudah ditekuni hampir 30 tahun itu. Pasalnya, dari produksi harian Freeport yang saat ini berada di angka 240 ribu ton per hari, sekitar 170-180 ribu ton di antaranya datang dari Grasberg. Sisanya dari tambang bawah tanah underground yang belum maksimal eksplorasinya.

"Jadi pada tahun 2019, produksi Freeport akan turun sekitar 60%, karena Grasberg tutup dan tambang bawah tanah belum optimal memproduksi. Ini memang masa-masa sulit bagi kita, tetapi ini sudah kita prediksi," lanjutnya.

Menuju Bawah Tanah

Sedikit mengengok ke belakang. Tambang bawah tanah pertama yang dioperasikan Freeport adalah Ertsberg East atau Gunung Bijih Timur. Tambang ini terletak pada ketinggian 3.686 mdpl dan dioperasikan pada akhir 1980 sebagai pengembangan terhadap situasi tambang terbuka Ertsberg yang saat itu beroperasi dengan keuntungan marjinal dan akan mendekati akhir pertambangan.

Nasib Freeport di Bawah TanahRencana Produksi Jangka Panjang (Foto: PT Freeport Indonesia)


Tambang Gunung Bijih Timur ini menggunakan metode reruntuhan (block caving), yakni dengan cara membuat gua atau rongga sehingga bijih yang berada di atasnya dapat runtuh dengan sendirinya sebagai akibat dari penarikan bijih di bawah dan beban di atasnya. Seterusnya, akan terjadi perambatan runtuhan terhadap keseluruhan blok bijih yang berada di atasnya. Nah, metode ini pula yang dipilih untuk tambang Grasberg Block Cave (GBC).

Dalam 10 tahun terakhir, Freeport telah mengucurkan hingga USD 6,2 miliar untuk tambang bawah tanah. Setelah era Grasberg open pit, mereka selanjutnya akan fokus untuk menggali ke tambang underground di sejumlah tempat, yakni Deep Ore Zone (DOZ), Deep Mill Level Zone (DMLZ), Big Gossan, dan Grasberg Block Cave (GBC). Hanya saja, meskipun terlihat banyak, operasional tambang dari deretan tempat tersebut belum maksimal.

Dikutip detikFinance dari laporan keuangan Freeport McMorRan Inc periode 2017, Freeport Indonesia di Papua tercatat memiliki 6 tambang. Di antaranya DMLZ, Grasberg open pit, DOZ, Big Gossan, Grasberg Block Cave dan tambang Kucing Liar.

Dari keenam tambang tersebut, Grasberg Block Cave merupakan penghasil tembaga dan emas terbesar. Cadangan yang ada di Grasberg Block Cave tercatat sekitar 963 juta metrik ton dengan tembaga sekitar 1,01% dan kandungan emas 0,72 gram per metrik ton, kemudian untuk perak tercatat 3,52 gram per metrik ton.

Tambang Bawah Tanah PT Freeport IndonesiaTambang Bawah Tanah PT Freeport Indonesia (Foto: Ardhi Suryadhi)


Kemudian tambang DMLZ menduduki posisi kedua dengan jumlah 437 juta metrik ton dengan kandungan tembaga 0,91%. Kemudian untuk emas 0,75 gram per metrik ton dan perak 4,39 gram per metrik ton.

Setelah itu tambang Kucing Liar berada di posisi ketiga yakni 360 juta metrik ton. Dengan jumlah tembaga 1,25%. Jumlah kandungan emas di tambang ini mencapai 1,07 gram per metrik ton.Kemudian untuk perak tercatat 6,48 per metrik ton.

Ada pula tambang DOZ yang memiliki cadangan sebesar 79 juta metrik ton. Kandungan tembaga mencapai 0,54% dengan emas 0,54 gram per metrik ton dan perak 0,76 gram per metrik ton.

Lalu tambang Big Gossan tercatat memiliki kandungan 58 juta metrik ton. Jumlah tembaga mencapai 2,22%. Kemudian emas 0,93 gram per metrik ton dan perak 13,18 gram per metrik ton.

Terakhir tambang Grasberg open pit tercatat 34 juta metrik ton. Dengan konsentrat tembaga 1,29 gram per metrik ton. Kandungan emas di Grasberg Open Pit ini lebih besar dibandingkan tambang lain yakni mencapai 2,64 gram per metrik ton dan untuk perak mencapai 3,63 gram per metrik ton.

"Untuk tambang bawah tanah kita baru produksi dari DOZ dan Big Gossan. tapi setelah Grasberg tutup tahun depan maka semuanya akan datang dari underground, dan akan kita capai 160 ribu ton per hari, tapi setelah dua tahun kemudian," papar Zulkifli yang sudah hampir 30 tahun bekerja di Freeport.

Alhasil, untuk mengejar ketertinggalan pasca era Grasberg, Freeport wajib agresif membangun infrastruktur di tambang bawah tanahnya. Tak kurang dari 600 km jalur sudah tersambung di sepanjang tambang bawah tanahnya. Selain itu, kendali jarak jauh (MineGem) untuk mengeruk hasil tambang pun sudah dioperasikan lantaran risiko di tambang underground yang lebih tinggi.

Belum lagi crusher (mesin penghancur bijih) terbesar, kereta bawah tanah yang sampai sekarang juga terus dikembangkan termasuk lift di area tambang GBC untuk memperpendek waktu tempuh bagi pekerja dan distribusi alat.

Harapannya, tambang bawah tanah bisa menjadi mesin produksi utama Freeport utama usai era Grasberg open pit. Targetnya adalah, usai produksi anjlok di 2019 maka tahun 2020 produksi mereka mulai rebound menjadi 58 juta ton/tahun, tahun 2021 menjadi 68 juta ton, dan pada tahun 2022 naik lagi menjadi 75 juta ton per tahun seperti era kejayaan Grasberg. Dengan catatan, empat tambang bawah tanah utama Freeport beroperasi normal.

"Tambang bawah tanah memang sulit diprediksi. Cuma yang pasti investasi di sini lebih tinggi, risikonya lebih tinggi, dan tantangannya juga semakin tinggi. Cuma memang masa depan Freeport ada di sini," sambung Zulkifli.

Kepastian Investasi Vs Reklamasi

Pun demikian, segala ambisi Freeport tersebut pada akhirnya masih harus menunggu ketok palu kepastian investasi dan operasi hingga tahun 2041 yang diberikan oleh pemerintah Indonesia. Kepastian ini merupakan satu dari sejumlah poin hasil perundingan Freeport dengan pemerintah setelah Indonesia resmi mencaplok 51% saham Freeport Indonesia.

Proses divestasi 51% saham Freeport Indonesia dilakukan oleh PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) selaku induk holding BUMN bidang pertambangan dengan mahar USD 3,85 miliar. Dana tersebut untuk membeli 40% hak partisipasi atau Participating Interest (PI) Rio Tinto di Freeport Indonesia serta 100% saham Freeport McMoran di PT Indocopper Investama dengan porsi 9,36% saham di Freeport Indonesia. Selanjutnya, 40% hak partisipasi Rio Tinto yang dibeli Inalum akan dikonversi menjadi saham sehingga total yang dimiliki Indonesia nanti sebesar 51,38%.

"Meskipun struktur kepemilikan saham PTFI akan mengalami perubahan, tidak terdapat dampak terhadap operasi perusahaan maupun rencana masa depan dan tidak ada perubahan atas status kerja karyawan sebagai dampak dari transaksi tersebut," sebut Zulkifli.

Terkait SDM, Freeport Indonesia justru punya rencana untuk mentransisi pekerja mereka ke skil-skill yang lebih dibutuhkan di tambang bawah tanah. Tapi memang itu butuh waktu dan training.

Selain itu, PR Freeport lainnya di Grasberg adalah kewajiban reklamasi. Proyek Wanagon (proyek menstabilkan lereng) di Grasberg misalnya sudah dianggarkan untuk dapat suntikan dana hingga USD 700 juta sampai tahun 2024.

"Jadi ini (reklamasi) masih kita kerjakan, hanya kegiatan di open pit yang akan kita tutup di akhir tahun 2018. Kalau dulu kita berproduksi dari tambang terbuka, maka kini ke tambang bawah tanah. Dimana teknologinya berubah, caranya berubah, masalahnya berubah," pungkas Zulkifli.

Tonton juga 'Blusukan ke Tambang Bawah Tanah Freeport' di bawah ini:

[Gambas:Video 20detik]

(ash/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed