Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 07 Sep 2018 18:41 WIB

BBM Satu Harga Hadir di Pelosok Sumsel, 7 Jam dari Palembang

Raja Adil Siregar - detikFinance
Foto: Raja Adil Siregar/detikcom Foto: Raja Adil Siregar/detikcom
Musi Banyuasin - Unit pengisian BBM Satu Harga hadir di Desa Sukajadi, Lalan, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Kehadiran BBM Satu Harga sebagai komitmen pemerintah menyalurkan BBM di daerah tertinggal, khususnya di Lalan dan dikenal letaknya di daerah perairan.

"Daerah ini sangat tertinggal karena dia aksesnya harus melalui perairan. Untuk sampai Palembang, warga di sini harus pakai speedboat. Ongkos mahal, waktu tempuh juga lama. Sekitar 4 jam," kata Kepala BPH Migas Fanshurullah, Jumat (7/9/2018).


Fanshurullah menjelaskan, warga di Lalan sebenarnya masih bisa memanfaatkan jalur darat sebagai akses menuju Palembang, tetapi membutuhkan waktu lebih lama antara 7-8 jam, dan saat musim hujan jalanan berlumpur.

"Karena akses itu tadi (harga) bahan bakar jadi tinggi, akibatnya bahan pokok juga ikut tinggi. Artinya apa, keadilan sosial tidak dirasakan di sini kalau BBM lebih tinggi karena harus beli dari pengecer ilegal," sambung Fanshurullah.


"Ini lokasi stasiun ke 69 di Indonesia dan yang pertama di Sumatera Selatan. Jadi sekarang keadilan sosial bisa dirasakan warga dan harga sudah sama dengan di daerah lain. BPH Migas juga nanti terus memantau agar tidak disalahgunakan dan bisa tepat sasaran," katanya.

Untuk investasi BBM Satu Harga tersebut diperkirakan sekitar Rp 400 juta-500 juta. Dengan begitu ada 3 jenis BBM yang dijual, yaitu premium, pertalite dan solar. BBM juga diangkut memakai drum dari Kertapatih menyusuri sungai Musi selama 20 jam.

"Pengirimannya ini membutuhkan waktu yang cukup lama, setidaknya 20 jam dari TBBM Kertapatih menuju Dermaga Desa Sukajadi. Kondisi cuaca air pasang surut jadi pertimbangan, karena keselamatan tetap jadi prioritas kami," terang Manager MOR II, Hendrix Eko V menyambung dari ucapan Kepala BPH Migas.


Hendrix mengatakan peresmian stasiun BBM Kompak 26.307.29 menjadi salah satu program BBM satu Harga di daerah Sumbagsel. Dimana sebelumnya tahun 2017 diresmikan lembaga di Malakoni, Pulau Enggano.

"Kami memiliki bertanggungjawab untuk memonitor seluruh penyaluran BBM Satu Harga. Untuk di Lalan dan Enggano, kami akan terus pastikan suplainya agar harga bisa sama dengan di kota," kata Hendrix.

Kelangkaan BBM

Seorang warga, Haris Hartanto mengaku selama ini di Kecamatan Lalan memang kerap kelangkaan BBM. Terutama saat memasuki musim penghujan dan musim panen raya.

Untuk premium yang harga di stasiun Rp 6.450, dijual oleh para pengecer seharga Rp 12.000. Begitu juga dengan solar dan dijual Rp 8.500-10.000 dari harga stasiun Rp 5.150.

"Pengecer rata-rata ambil untung di atas Rp 4.000, mau nggak mau ya kami harus beli karena butuh. Tapi kadang juga BBM tidak ada saat musim penghujan, pernah sampai 2 bulan itu benar-benar langka di sini BBM," kata Haris.


Daerah Lalan sendiri, Haris mengatakan letaknya memang cukup jauh dari pusat kota. Sehingga di daerah tersebut tidak ada listrik yang menerangi rumah-rumah warga saat malam hari.

Untuk mengatasi persoalan itu Pemkab Musi Banyuasin membangun sebuah pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Tapi itu pun tak maksimal karena sering listrik lebih sering padam.

"Listrik hidup dari pukul 18.00-06.00 WIB, yang jadi masalah kadang hidup hanya 2 jam sudah mati. Pernah satu bulan listrik hidup 2 hari karena tidak ada BBM," kata pria berusia 27 tahun tersebut.

Sama seperti program BBM Satu Harga lainnya, stasiun BBM ini berjenis Kompak dan terletak di daerah yang sulit diakses. Untuk menyuplai, pemiliknya harus pun harus menggunakan kapal tongkang dan menyusuri sungai Musi selama 22 jam. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed